Kamis, 13 Desember 2018

Naskah Drama : ROBOHNYA SURAU KAMI

ROBOHNYA SURAU KAMI Cerita : Ali Akbar Navis Penyadur/Adaptasi: Hermana HMT SEJENAK MUSIK BERGEMURUH. PERLAHAN TERDENGAR GESEKAN BIOLA ATAU LANTUNAN SERULING DIBARENGI GEMERCIK AIR DAN DESIR ANGIN. SAYUP-SAYUP TERDENGAR KUMANDANG ADZAN SUBUH. ORANG-ORANG MUNCUL DARI BERBAGAI ARAH, BERBARIS DI PANGGUNG SEPERTI MAU MELAKUKAN SHALAT. ADZAN USAI SESEORANG MELAPALKAN DOA SETELAH ADZAN, LALU ORANG-ORANG MENDENDANGKAN LAGU ”AL-ITIRAF “. PEMBACA DOA 1 Ya Allah, ya Tuhan kami jangan Engkau jadikan kami condong pada kesesatan Sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami,dan karuniailah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ( QS. Al-Imran 8 ) PEMBACA DOA 2 Ya Allah, ya Tuhan kami, Engkau masukan malam pada siang, Engkau masukan siang pada malam dan Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati,Engkau mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau memberi rizki kepada siapa yang Engkau kehendaki dengan tidak terkira. ( QS. Al-Imran 27 ) PEMBACA DOA 3 Ya Allah yang mempunya kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki., Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebijakan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ( Al-Imran 26 ) TIBA-TIBA SEORANG PEREMPUAN MUNCUL DAN MENANGIS SEPERTI ANAK KECIL. SEORANG PEREMPUAN Kini kakek itu sudah tidak ada lagi. Ia sudah meninggal. Dan tinggalah surau itu tanpa penjaganya. Sekarang hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Orang-orang itu semakin masa bodoh. Dan biang kebodohan itu ialah sebuah dongeng yang tidak dapat disangkal kebenarannya. PIMPINAN PENTAS Hei,hei,hei ! Berhenti ! Apa-apaan sih kamu ? Orang lain berdoa ini malahan menangisi yang tidak jelas. Sudah, tidak baik banyak bersedih hati. Yang sudah berpulang biarlah pulang dengan tenang, kita-kita yang akan mengikutinya nanti, dari sekarang lebih baik mempersiapkan bekal kepulangan kita itu. Agar nanti tidak tersesat atau masuk ke tempat yang tidak kita sukai. Sekarang lebih baik memperbaiki hidup daripada meratapi yang sudah mati. Sudah ya,jangan menangis lagi malu tuh sama orang-orang. Oh ya, penonton. Selamat berjumpa dengan kami. Maaf tadi saya memotong dulu. Pertunjukan sebenarnya belum dimulai. SEORANG PEREMPUAN Loh,loh. Yang barusan adegan apa ? PIMPINAN PENTAS Itu baru sambutan awal dan doa. SEORANG PEREMPUAN Jadi belum,ya ? PIMPINAN PENTAS Belum. ORANG-ORANG Huhhhh. PIMPINAN PENTAS Sudah, sudah ! Sekarang kalian duduk dulu yang rapi….Maaf pemirsa, barusan itu kesalah pahaman. Begini…eeeh.. tapi sekali lagi saya menghaturkan mohom maaf. Anu…eeh.. sebelum cerita dimulai, saya ingin sekali menyampaikan sepatah kata pada anda semua. Kenapa saya ingin sekali berkata-kata ? Tentu, karena saya kuatir setelah pertunjukan ini tiba-tiba ada gelombang protes besar-besaran. Maklumlah zaman reformasi. Jadi, sebelum cerita ini kami lanjutkan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila nanti ada kelancangan-kelancangan yang tidak berkenan dihati para pemirsa. Ini cerita bukan cerita sesungguhnya, tapi dongeng yang kebenarannya sangat bisa diragukan. Dongeng adalah dongeng. Dongeng bukan kenyataan, walau kadang ada nyatanya. Agar lebih jelasnya silahkan simak dengan hati yang lapang.begitu saja dari saya. Ayo anak-anak lanjutkan dongengannya, tapi jangan pakai tangis-tangisan lagi kesannya seperti telenovela. Siapa tadi yang nangis ? ORANG-ORANG Dia pak. PIMPINAN PENTAS Oh kamu. Awas ! Jangan pakai nangis lagi, ya ! Ayo mulai. TIBA-TIBA EMPAT ORANG PEREMPUAN MUNCUL DENGAN JERITAN DAN TANGISAN. PEREMPUAN SATU Tapi kakek itu sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggal surau itu tanpa penjaganya, hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar seing mencopoti papan dinding lantai di malam hari. PEREMPUAN DUA Jika kalian datang sekarang,hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. PEREMPUAN TIGA Dan kecerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. PEREMPUAN EMPAT Dan terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang,yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaganya lagi. PIMPINAN PENTAS Aduh, aduh, aduh, aduh ! Sudah saya bilang jangan pakai sedih-sedihan, malahan makin banyak yang bersedih. Bagaimana kalian ini ? Hei ! Negeri kita ini sedang bersedih.jangan ditambah-tambah lagi kesedihannya.Sudah, sudah ! Lebih baik sekarang kalian bernyanyi. Mau enggak ? ORANG-ORANG Mauuuu. PIMPINAN PENTAS Bagus. Bagaimana musik, siap ? PEMUSIK Siap bos. Nyanyi apa ? PIMPINAN PENTAS Katanya siap. Lagunya anu.. eh.. ” Ajo Sidi “. Mulai. ORANG-ORANG BERNYANYI. Ajo Sidi oh Ajo Sidi Pendongeng dari sebrang sana Tak henti-henti berceloteh Hingga orang terpana bualannya Ajo Sidi oh Ajo Sidi Kerjaannya sidir menyindir Mejerat hati tiap orang Jadi sumber ejekannya PIMPINAN PENTAS MEMBERHENTIKAN ORANG-ORANG YANG SEDANG ASIK BERYANYI DAN MENARI. ORANG-ORANG GUSAR, TAPI SEMUANYA DAPAT DITERTIBKAN. SAYUP-SAYUP TERDENGAR SUARA SERULING DIBARENGI GESEKAN BIOLA, GEMERCIK AIR DAN DESIR ANGIN . SEORANG KAKEK SEDANG TERMANGU SAMBIL MEMENGANG PISAU CUKUR. LAKI-LAKI Assalamualaikum… assalamualaikum… assalamualaikum. Biasanya kakek gembira menerima kedatanganku, karena aku suka memberinya uang, tapi sekali ini begitu muram.Tidak pernah aku melihat kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat ini. LAKI-LAKI ITU MENGAMBIL SALAH SATU PISAU CUKUR YANG TERGELETAK DI SAMPING SI KAKEK. LAKI-LAKI Pisau siapa, Kek ? KAKEK Ajo Sidi ! LAKI-LAKI Ajo Sidi ? ( KAKEK TIDAK MENYAHUT. HENING SEJENAK ) Apa Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek ? KAKEK Siapa ? LAKI-LAKI Ajo Sidi. KAKEK Kurang ajar dia. LAKI-LAKI Kenapa, Kek ? KAKEK Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya. LAKI-LAKI Kakek marah ? KAKEK Marah ? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tidak marah-marah lagi. Takut kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadah, bertawakal kepada Allah. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepadaNya. Dan Allah akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. LAKI-LAKI Bagaimana katanya, Kek ? ( KAKE DIAM SAJA. BERAT HATI BICARA ). Bagaimana katanya, Kek ? KAKEK Kau kenal padaku, bukan ? Sedari kecilkau aku sudah di sini. Sedari muda, bukan ? Kau tahu apa yang aku lakukan semua, bukan ? Terkutuklah perbuatanku ? Dikutuki Tuhan kah semua pekerjaanku ? DIAM SEJENAK. Sedari muda aku di sini, bukan ? Tak kuingat punya istri, punya anak, penya keluarga seperti orang lain, tahu ? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tidak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku,lahir batin, kuserahkan pada Allah subhanahu wata’ala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu ? Akan dikutukiNya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepadaNya ? Tak kupikirkan hari esok,karena aku yakin Allah itu ada dan pengasih penyang kepada umatNya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk, membangunkan setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca kitabNya. Apa salah pekerjaanku itu ? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. LAKI-LAKI Ia katakan Kakek begitu ? KAKEK Ia tidak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kira. LAKI-LAKI Ajo Sidi memang kurang ajar. Apa lagi yang dikatakan Ajo Sidi, Kek ? KAKEK Pada suatu waktu dia bicara padaku. Dia bialang. MUSIK BERGEMURUH. AJO SIDI Di akhirat Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di sampingNya. Ditangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Bigitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah di mana-mana ada perang. Dan diantara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia dinamai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukan ke surga. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyuman ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk surga, ia melambaikan tangannya,seolah hendak mengatakan “sampai ketemu nanti “. Begitu tak habis-habisnya orang yang berantri, begitu panjangnya. Susut di muka bertambah di belakang. Akhirnya sampai giliran Haji Saleh. MUSIK BERGEMA, ANGIN BERGEMURUH. SUARA Engkau siapa? HAJI SALEH Aku Saleh. Karena aku sudah ke mekah Haji Saleh namaku. Tuan ini siapa ? SUARA Jangan banyak bertanya. Apa kerjamu di dunia ? HAJI SALEH Aku menyembah Tuhan. SUARA Lain ? HAJI SALEH Setiap hari, setiap malam, bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Nya. SUARA Lain ? HAJI SALEH Segala larangan-Nya kuhentikan. Tidak pernah aku berbuat jahat, walau dunia seluruhnya penuh oleh dosa-dosa yang dibisikan iblis laknat itu. SUARA Lain ? HAJI SALEH Tak ada pekerjaanku selain beribadat padaNya, menyebut-nyebut namaNya. Bahkan ketika aku sakit namaNya menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hatiNya untuk nginsafkan umatNya. SUARA Lain ? LAMPU MENYINARI AJO SIDI YANG MELANJUTKAN DONGENGANNYA. AJO SIDI Haji saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segalanya yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, bahwa pertanyaan yang dilontakan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Hawa panas api neraka tiba-tiba menghembus ketubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap airmatanya mengalir, di isap kering oleh hawa panas neraka itu. MUSIK BERGEMA. HAJI SALEH MENGIGIL KETAKUTAN. ORANG-ORANG BERGERAK SEPERTI JOMBI. SUARA Lain lagi ? HAJI SALEH Sudah saya ceritakan semuanya. Oh, Tuhan yang Maha Besar, lagi pengasih dan penyayang, Adil dan Maha Tahu. SUARA Tidak ada lagi ? HAJI SALEH Oh, o, oo, aku selalu membaca kitabNya. SUARA Lain ? HAJI SALEH Sudah kuceritakan semuanya. Tapi kalau ada yang aku lupa aku mengatakannya, aku pun bersyukur karena yang maha tahu itu Tuhan. SUARA Sungguh tidak ada lagi yang kau kerjakan di dunia selain yang kau ceritakan tadi ? HAJI SALEH Ya, itulah semuanya. SUARA Maksud kamu ? MUSIK BERGEMURUH. AJO SIDI Haji saleh tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti mengapa ia dibawa ke neraka. Ia tidak mengerti apa yang dikehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap. PENDONGENG 1 Alangkah tercengangnya Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tak tambah mengerti dengan keadaan dirinya, karena yang dilihatnya di neraka itu tidak kurang ibadahnya dari diri dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke mekah dan bergelar Syekh pula. PENDONGENG 2 Lalu haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya pada mereka kenapa berada di neraka semuanya. Tapi sebagaimana haji Saelah orang-orang out pun tak mengerti juga. SEMUA ORANG BERISTIGFAR. HAJI SALEH Bagaimana ini ? Bukankah kita disuruhNya taat beribadah, teguh beriman ? Dan itu semua telah kita kerjakan selelama hidup kita. Tapi kita kini dimasukan ke dalam neraka. TOKOH LAIN Ya kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat. HAJI SALEH Ini sungguh tidak adil. ORANG-ORANG Memang tidak adil. HAJI SALEH Kita harus mengingatkan Dia, kalau-kalau Ia silap memasukan kita ke neraka ini. ORANG-ORANG Benar, benar, benar. TOKOH LAIN 2 Kalau dia tidak mau mengakui kesilafanNya, bagaimana ? HAJI SALEH Kita protes. Kita resolusikan. TOKOH LAIN 3 Apa kita revolusikan juga ? HAJI SALEH Itu tergantung kepada keadaan. Yang penting sekarang, mari kita berdemontrasi mengadapNya. TOKOH LAIN Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demontrasi saja, banyak yang kita peroleh. ORANG-ORANG Setuju, setuju, setuju. SEMUA ORANG BERGERAK. MUSIK BERGEMURUH. HAJI SALEH Oh, Tuhan kami Yang Maha Besar. Kami menghadapMu. Ini adalah umatMu yang paling taat beribadat, yang pang taat menyembahMu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut NamaMu, memuji-muji kebesaranMu, mempropagandakan keadilanMu, dan lain-lainnya. KitabMu kami hapal di luar kepala kami. Tidak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi Tuhanku Yang Maha Kuasa, setelah Engkau kami panggil kemari, Engkau masukan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tidak diingini, di sini, atas nama orang-orang yang cinta kepadaMu, kami menuntut agar hukuman yang Kau jatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan memasukan kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam kitabMu…. Mari kita menghadap Dia. ORANG-ORANG BERGERAK SEPERTI AKAN DEMONSTRASI. SUARA Kalian mau apa lagi. HAJI SALEH Kami ingin bertemu Tuhan. SUARA Tidak bisa. HAJI SALEH Harus ini sangat penting. Ini menyangkut nasib kami. SUARA Kamu mesti tahu. Tuhan telah menugaskan aku untuk menuntut kalian. HAJI SALEH Kamu ini sebenarnya siapa ? SUARA Tadi kan sudah kukatakan, aku adalah dirimu sendiri dan kalian semua. HAJI SALEH Aku tidak peduli… SUARA Sudah jangan banyak cingcong. Sekarang aku bertanya lagi pada kalian. Kalian di dunia tinggal di mana ? HAJI SALEH Kami ini adalah umat Tuhan yang tinggal di Indonesia. SUARA Oh, di negeri yang tanahnya subur itu ? HAJI SALEH Ya, benar. SUARA Tanah yang kaya raya, penuh dengan logam, minyak dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan ? ORANG-ORANG Benar, benar, itulah negeri kami. SUARA Di negeri yang tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa di tanam ? ORANG-ORANG Benar, benar itulah negeri kami. SUARA Di negeri di mana penduduknya sendiri meralat ? ORANG-ORANG Ya, Ya, itu negeri kami. SUARA Negeri yang di perbudak orang lain ? TOKOH LAIN Ya sungguh laknat penjajah itu. SUARA Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkutnya, dijarah, bukan ? TOKOH LAIN 2 Benar. Hingga kami tidak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu. SUARA Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan ? HAJI SALEH Benar. Tapi bagi kami soal harta benda itu tidak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Tuhan. SUARA Engkau rela tetap meralat, bukan ? ORANG-ORANG Benar kami rela sekali. SUARA Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga meralat, bukan ? TOKOH LAIN Sungguhpun anak cucu kami meralat, tapi mereka semua pintar mengaji. Alkitab mereka hapal di luar kepala. SUARA Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semuanya. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengagambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antar kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Tuhan beri negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedangkan Tuhan menyuruh engkau beramal disamping beribadah. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira Tuhan suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak ! Karena itu kamu semua masuk neraka dan di letakan di keraknya. ORANG-ORANG TIDAK BERGERAK APA-APA LAGI. MEREKA TERMANGU, TAPI HAJI SALEH MASIH SAJA TIDAK PUAS. HAJI SALEH Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia ? SUARA Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau telah mementingkan diri sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaumu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kocar-kacir selamanya. Itulah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egois. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun. MUSIK TERDENGAR MEMILUKAN. TERDENGAR SESEORANG BERTERIAK. SAYUP-SAYUP SESEORANG SEDANG MENGAJI. SESEORANG Bunuh diri. Ada yang bunuh diri. ORANG-ORANG Di mana ? SESEORANG Di surau. Ia menggorok lehernya dengan sebilah pisau cukur. ORANG-ORANG Astagfirulahal’adzim. ORANG-ORANG BERGERAK. PEREMPUAN Mas. Mas. Mas. Apa tidak menjenguk ? LAKI-LAKI Siapa yang meninggal ? PEREMPUAN Kakek. LAKI-LAKI Kakek ? PEREMPUAN Ya, tadi subuh kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur. LAKI-LAKI Astagfirulahal’adzim. Ini pasti gara-gara Ajo Sidi. SEMUA DIAM. PIMPINAN PENTAS Ternyata kita tidak bisa lepas dari kenyataan. Hidup dan mati bukanlah milik kita. Kita di sini hanya mengembara dan kita semua akan kembali. Kematian memang menyedikan, tapi yangpiling menyedihkan jika kerja keras kita hasilnya sia-sia. MUSIK BERGEMURUH. TAMAT Catatan Cerita ini diambil dari sebuah cerpen ” Robohnya Surau Kami ” karya AA. Navis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar