Jumat, 25 Desember 2009

KOLEKSI BUKU TEATER

KOLEKSI BUKU TENTANG TEATER DAN DRAMA


1. A. Rumadi (Ed.), 1991. Kumpulan Drama Remaja. Jakarta : Grasindo

2. Ags. Arya Dipayana (Ed.), t.t. Warisan Roedjito : Sang Maestro Tata Panggung Perihal Teater dan Sejumlah Aspeknya. Jakarta : Dewan Kesenian Jakarta

3. Ahmad, A. Kasim, 1977. Sebuah Pengantar tentang Teater Tradisional di Indonesia. Majalah Budaya Jaya No. 114 Tahun Kesepuluh—Nopember 1977

4. Artaud, Antonin, 2009. Teater dan Kembarannya. Terjemahan Max Arifin. Surabaya : Dewan Kesenian Jawa Timur

5. Atmazaki, dan WS, Hasanuddin, 1990. Pembacaan Karya Susastra sebagai suatu Seni Pertunjukan. Padang : Angkasa Raya

6. Berger, Arthur Asa, 2000. Signs in Contemporary Culture : An Introduction to Semiotics, terjemahan M. Dwi Marianto, Sunarto Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer.. Yogyakarta : Tiara Wacana

7. Brook, Peter, 2002. Shifting Point (Percikan Pemikiran tentang Teater, Film, dan Opera). Yogyakarta : MSPI dan arti

8. Danandjaja, James, 1997. Folklor Indonesia : Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta : Grafiti

9. Grotowski, Jerzy, 2002. Toward Poor Theatre (Menuju Teater Miskin). Yogyakarta : MSPI dan arti

10. Hadi, Wisran, 1997. Naskah Drama Indonesia Akhir Abad 20 dalam Perspektif Sejarahnya dalam Panorama Sastra Indonesia Dewan Kesenian Sumatera Barat dan Dewan Kesenian Jakarta. Jakarta : Balai Pustaka

11. Haryono, Edi (Ed.), 2000. Rendra dan Teater Modern Indonesia : Kajian Memahami Rendra Melalui Kritikus Seni. Yogyakarta : Kepel Press

12. Junus, Umar, 1981. Mitos dan Komunikasi. Jakarta : Sinar Harapan

13. Junaedhie, Moha, 1994. Apresiasi Sastra. Ujungpandang : Badan Penerbit IKIP Ujungpandang

14. Kartakusuma, Muh. Rustandi, 1977. Menjajagi Teater Tradisional Menuju Teater Indonesia. Majalah Budaya Jaya No. 114 Tahun Kesepuluh—November 1977

15. K.M., Saini, 1993. Dramawan dan Karyanya. Bandung : Angkasa

16. …………..,1994. Budaya Teater dalam Seni Pertunjukan Indonesia. Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Jakarta : MSPI dan Gramedia

17. Koentjaraningrat, 2002. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan

18. Lubis, Mochtar, 2001. Manusia Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

19. Mitter, Shomit, 2002. Stanilavsky, Brecht, Grotowski, Brook : Sistem Pelatihan Lakon. Yogyakarta : MSPI dan arti

20. Mohamad, Goenawan, 1980. Seks, Sastra, Kita. Jakarta : Sinar Harapan

21. Moody, H.L.B., 1993. The Teaching of Literatur, saduran bebas B. Rahmanto Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius

22. Neelands, Jonathan, 1993. Making Sense of Drama, saduran bebas Dean Praty Rahayuningsih Pendidikan Drama : Pedoman Mengajarkan Drama. Semarang : Dahara Prize

23. Noer, Arifin C., 2005. Teater Tanpa Masa Silam. Jakarta : Dewan Kesenian Jakarta

24. Pugmire, Neil, 2006. 50 Ide Drama untuk Memeriahkan Berbagai Acara. Yogyakarta : Andi

25. RMA. Harymawan, 1993. Dramaturgi. Bandung : Remadja Rosdakarya

26. Rendra, 1984. Mempertimbangkan Tradisi. Jakarta : Gramedia

27. ……………, t.t. Tentang Bermain Drama. Jakarta : Pustaka Jaya

28. ........................., 2007. Seni Drama untuk Remaja. Jakarta : Burung Merak Press

29. Riantiarno, N, 2003. Menyentuh Teater : Tanya Jawab Seputar Teater Kita. Jakarta : PT HM Sampoerna Tbk

30. San, Suyadi, 2004. Telaah Drama : Konsep Teori dan Kajian. Medan : Sanggar GENERASI dan Harian Mimbar Umum

31. Satoto, Soediro, 1994. Teater sebagai Sistem Tanda dalam Seni Pertunjukan Indonesia. Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Jakarta : MSPI dan Gramedia

32. Sikana, Mana, 1990. Drama Penantian. Darul Ehsan, Selangor, Malaysia : Karyawan

33. Siregar, Ahmad Samin dkk, 1985. Kamus Istilah Drama. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI

34. Sitorus, Eka D, 2002. The Art of Acting : Seni Peran untuk Teater, Film, dan TV . Jakarta : Gramedia

35. Sondari, Koko, dan MT, Wahdat, 2001. Ubrug (Teater Rakyat Banten). Jakarta : Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Dirjen Kebudayaan Depdikbud RI

36. Stanislavski, 2007. Persiapan Seorang Aktor. Jakarta : Sanggar Pelakon

37. ...................., Constantin, 2008. Membangun Tokoh. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia

38. Suharianto, S, 1982. Berkenalan dengan Cipta Seni. Semarang : Mutiara Permata Widya

39. Sulastianto, Harry, dkk., 2006. Seni Budaya untuk Kelas X dan XI Sekolah Menengah Atas. Bandung: Grafindo Media Pratama

40. Sumardjo, Jacob, 1993. Ikhtisar Sejarah Teater Barat. Bandung : Angkasa

41. …………………., 1992 Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti

42. …………………, dan K.M., Saini, 1988. Apresiasi Kesusasteraan. Jakarta : Gramedia

43. Supriyanto, Henri, 1980. Pengantar Studi Teater untuk SMA. Malang : Lembaga Penerbitan Universitas Brawijaya

44. Tjahjono, L. Tengsoe, 2005. Menembus Kabut Puisi. Malang : Dioma

45. TWH, Muhamad, 1992. Sejarah Teater dan Film Sumatera Utara. Medan : Yayasan Pelestarian Fakta Perjuangan Kemerdekaan RI

46. Waluyo, Herman J, 2003. Drama : Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta : Hanindita

47. Wijaya, Putu, 2009. Teater : Buku Pelajaran Seni Budaya. Jakarta : Lembaga Pendidikan Seni Nusantara

48. Wiyanto, Asul, 2005. Kesusastraan Sekolah : Penunjang Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP dan SMA. Jakarta : Grasindo

49. WS., Hasanuddin, 1996. Drama : Karya dalam Dua Dimensi. Bandung : Angkasa

Sabtu, 05 Desember 2009

Generation Theater turn up

Generation Theater turn up, too. The night of November 25, 2009, Suyadi San repotoar served as a director who is known world. Romeo and Yiluet. The story of love until the death of Romeo and Yuliet. The story of the tragedy that was the right movie was actually the work of major artists from England SakesPiere. But that night, it was a classic story into a funny spectacle, too tragic. Yuliet who ate poison that can make him a dead faint, making Romeo actually follow Yuliet death. Romeo drank the poison.
That night, the audience did not enjoy the story of Romeo and Yuliet dramatic. Suyadi San as a director has been picked up this classic story with style popey, trying to be funny and a caricature spices. The players are too forced myself to be funny in front of audiences. Slippage Romeo and Yuliet almost failed when it could not play Romeo caricature. Appearance is actually quite sweet, comes with a ketprakan style with costum in dressing lihttp://teaterimago.blogspot.com/. ke a westerner. Theater Generation successfully melencengkan story became a story comedy classic.

sumber : http://teaterimago.blogspot.com/. Kamis, 26 November 2009

Kamis, 03 Desember 2009

Seni: Teater di Sumatera Lebih Berkembang

Lampung Post, Selasa, 13 Januari 2009



BANDAR LAMPUNG (Lampost): Perkembangan komunitas teater perempuan di Sumatera lebih cepat dibanding dengan Jawa. Komunitas teater perempuan di Pulau Sumatera juga dinilai lebih berani dalam menyampaikan tema tentang perempuan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Operasional Kala Sumatera Imas Sobariah, Senin (12-1), usai L:kakarya Panggung Perempuan se-Sumatera.

Menurut Imas, komunitas teater Perempuan di Sumatera terbukti lebih berani dalam mengeksplorasi tema perempuan dibanding dengan komunitas teater di Pulau Jawa. Dengan kondisi seperti ini, kata Imas, perkembangan komunitas teater perempuan di Sumatera lebih cepat dibanding dengan Jawa.

Panggung perempuan se-Sumatera diikuti 21 peserta dari 12 lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas teater, di antaranya Teater GENERASI (Sumatera Utara), Kominitas Seni Intro (Sumatera Barat), Teater Sakata (Sumatera Barat), Teater Selembayung (Riau), Teater Oranye (Jambi), Teater Andung (Bengkulu), Teater Kurusetra (Lampung), Teater Baru (Sumatera Selatan), SPI Labuhan (Sumatera Utara), WCC Palembang, APM Merangin, dan Damar Lampung.

Imas mengatakan dalam lokakarya tersebut peserta harus menyampaikan draf penulisan lakon dan penyutradaraan untuk mempertajam ide teater yang akan dipentaskan pada April mendatang. Tema teater yang disampaikan peserta, kata Imas, adalah seputar dunia perempuan dan tentang rumah tangga. Teater Satu Lampung mengadakan Lokakarya Panggung Perempuan se-Sumatera di Taman Budaya, 8--12 Januari. Dalam acara ini perwakilan dari beberapa teater di Sumatera mempresentasikan ide penulisan lakon dan penyutradaraan di hadapan para pemateri.

Menurut Imas, para pembicara sangat mengapresiasi ide yang diusung komunitas teater di Sumatera. Melihat ide cerita yang disampaikan peserta, pembicara menilai perkembangan teater perempuan di Sumatera bisa lebih cepat dari teater di Jawa. Komunitas teater perempuan di Sumatera lebih berani dalam menyampaikan ide cerita. Teater yang nantinya dipentaskan antara lain berjudul Ci Apung, Emak, Sama dengan Nol, Tiga Perempuan, Koki Keluarga, Fatimah, dan Kembang Mayang. n */K-2