Kamis, 13 Desember 2018

Naskah Drama : FAJAR SIDDIQ

FAJAR SIDDIQ KARYA : EMIL SANOSSA PARA PELAKU: MARJOSO SERSAN AHMAD H. JAMIL ZULAECHA Sebuah markas gerilya, terlihat sebuah ruangan, satu pintu, satu jendela sel, meja tulis dan dua kursi dan satu bangku, peti mesiu, helm dan ransel tergantung. Suasana: malam hari, keadaan sepi, tegang, jauh-jauh masih terdengar letusan tembakan dan iring musik sayup-sayup instrumental Gugur Bunga, kemudian muncul Marjoso membawa surat, kemudian duduk membaca. Muncul seorang sersan. 1. MARJOSO : Jadi, sudah terbukti dia bersalah. 2. SERSAN : Ya, Pak. 3. MARJOSO : Tidak berdasarkan kira-kira saja? 4. SERSAN : Bukti-bukti telah cukup mengatakan, dan mereka menuntut eksekusi dapat dijalankan sebelum fajar. 5. MARJOSO : Menuntut? Kau kira siapa yang bertanggung jawab di sini? 6. SERSAN : Sudah terang! Tapi mereka khawatir, karena ..... karena si terhukum adalah ........ 7. MARJOSO : (cepat) Adalah kawanku? ...... Anak dari seorang guru yang kau hormati? Begitu? 8. SERSAN : Maaf, Pak. 9. MARJOSO : (mengeluh) Mereka pikir, apa aku ini? Mereka pikir dalam hal ini aku masih sempat memikirkan dia, anak dari seorang guru yang aku hormati. Kalau aku mintakan dia diperlukan dengan baik, itu adalah haknya sebagai tawanan. 10. SERSAN : Maaf, Pak. Kerap kali terjadi. 11. MARJOSO : Yaaaaaahh! Kerap kali terjadi. Orang tidak bisa membedakan antara tugas dan perasaan. Bawa dia kemari. 12. SERSAN : Siap, Pak! (sersan masuk, Marjoso melangkah, kemudian duduk. Terdengar nyanyian dalam penjara. Marjoso marah) 13. MARJOSO : Hai! Siapa yang meraung dini hari? 14. (NARATOR) : Siapa lagi kalau bukan si Djaelani pemabuk itu! 15. MARJOSO : Suruh dia diam. (kemudian Sersan masuk menghadap Marjoso, membawa seorang tawanan, sersan diperintahkan keluar dengan segera) 16. AHMAD : (menunggu dengan cemas) 17. MARJOSO : (menyuruh duduk) Ahmad, kau tak apa-apa, bukan? 18. AHMAD : Mereka bilang, kalau bukan kerena kau, aku sudah di satai. Terimakasih atas kebaikanmu itu. 19. MARJOSO : Terimakasih itu tak perlu. 20. AHMAD : Baiklah, apa yang akan kau perbuat atas diriku, perbuatlah! Kini aku tawananmu. 21. MARJOSO : (kata-kata itu menyayat seakan-akan memisahkan hubungan masa lalu) Ya ............. kau tawananku. 22. AHMAD : Tembaklah! Biar kau puas. 23. MARJOSO : (merasakan itu sebagai sindiran yang tajam) Itu perkara nanti. Tapi aku ingin mendengarkan dari mulutmu sendiri tentang semuanya ini dulu. 24. AHMAD : Apa yang ingin kau dengar? 25. MARJOSO : Dengan maksud apa kau kemari? (Ahmad membisu) Jawab Ahmad! Hanya itu yang ingin kutanyakan. Aku tidak ingin menanyakan tentang apa-apa yang telah kau perbuat. Aku tidak ingin menanyakan berapa jumlah prajuritku yang gugur terjebak tipu dayaku ....... Jawablah! 26. AHMAD : (tersenyum dingin) Tidakkah kau tahu, bahwa antara anak dan orang tuanya senantiasa terjalin ikatan yang tak terputuskan? 27. MARJOSO : Jangan kau coba mengelak, Ahmad! 28. AHMAD : (menegaskan suaranya) Aku ingin menjumpai ayah dan adikku Zulaecha. 29. MARJOSO : Tahukah kau tempatnya? 30. AHMAD : Tidak. 31. MARJOSO : Dari mana kau tahu kalau ayah dan adikmu di sini? 32. AHMAD : Dari orang-orang yang pernah datang kemari. 33. MARJOSO : Hmmmmm. Sebelum tertangkap kau sudah lebih kurang tiga hari berkeliaran di daerah ini, bukan? 34. AHMAD : Tidak! Tepat pada waktu aku sampai, aku terus ditangkap. 35. MARJOSO : Jangan bohong, Ahmad! 36. AHMAD : Aku tidak bohong. 37. MARJOSO : Di mana kau ditangkap? 38. AHMAD : Di tengah-tengah bulak. 39. MARJOSO : Mengapa kau di sana? 40. AHMAD : Aku sedang melepaskan lelah. 41. MARJOSO : Melepaskan lelah di tengah-tengah bulak? Ha .... ha ... ha ... 42. AHMAD : Aku tersasar. Aku belum pernah memasuki daerah ini. 43. MARJOSO : Waktu itu sebuah pesawat capung melayang-layang di atas bulak itu pula, bukan? 44. AHMAD : Ya! Tapi itu hanya secara kebetulan. 45. MARJOSO : Engkau tidak takut ditembak dari atas, Ahmad? 46. AHMAD : Aku takut juga. 47. MARJOSO : Mengapa kau tidak berlindung? 48. AHMAD : Aku berlindung. Aku rapatkan diriku rapat-rapat ke tanah. 49. MARJOSO : (mengambil sebuah cermin kecil di atas meja) Ahmad, ini cerminmu bukan? 50. AHMAD : (gugup sejurus) Ya. 51. MARJOSO : Hm, pesolek, benar, kau sekarang ...Apa gunanya cermin ini? 52. AHMAD : Cermin gunanya untuk mengaca. 53. MARJOSO : Ada sisirmu, Ahmad? Kau bawa sisir? 54. AHMAD : Hilang! 55. MARJOSO : (menatap Ahmad, tenang) Ya, Ahmad. Mengapa engkau bohongi aku? Baiklah kau takut pesawat capung itu menembakmu, bukan? 56. AHMAD : (tersadar, akan masuk perangkap) Maksudku ... akan ... aku tidak begitu takut. 57. MARJOSO : Mengapa? 58. AHMAD : Karena ....... karena ....... 59. MARJOSO : Karena apa? 60. AHMAD : Karena itu hanya pesawat capung. 61. MARJOSO : Tapi engkau tiarap juga, bukan? 62. AHMAD : (tak segera menyahut) .....................Ya. 63. MARJOSO : Dan engkau keluarkan cerminmu pada waktu itu. Barangkali kau pikir itu adalah kesempatan yang baik bagimu untuk melihat mukamu kena debu atau tidak. Kemudian orang melihat pantulan cerminmu bermain ke kiri dan ke kanan (Ahmad tetap membisu) Mengapa begitu, Ahmad? 64. AHMAD : Aku tidak tahu (perasaannya cemas sekali). 65. MARJOSO : (marah) Dusta! Dusta kau!!! 66. AHMAD : (tersentak) Engkau toh tahu aku akan berdusta. 67. MARJOSO : (merendah kembali) Mengapa engkau dustai aku, Ahmad? 68. AHMAD : Karena aku senang untuk berbuat begitu. 69. MARJOSO : (mula-mula perlahan kian lama kian berkobar) Engkau binatang yang tak perlu di beri ampun. Bukankah engkau yang membakar pesantren ayahmu? 70. AHMAD : Tidak! Tidak ........ aku tidak membakarnya. 71. MARJOSO : (mengatasi suara Ahmad) Engkau tak membakarnya. Tapi engkau biang keladi yang menyebabkan pesantren itu terbakar. Pesantren yang mewarisi tradisi turun-temurun. Mulai dari buyutmu, kakek-kakekmu sampai ke ayahmu. Pesantren tempat ayahmu menempa pemuda-pemuda yang bertanggung jawab akan hari depan agama dan tanah airnya, bangsanya. Ahmad ..... engkau tidak menyesali semua itu? (terdiam sebentar-sebentar menarik nafas). Oh, Ahmad, tidakkah engkau takut akan siksa Tuhanmu? Bagaimana kelak dosamu akana membakar dirimu? 72. AHMAD : Itu tanggunganku. Resiko! 73. MARJOSO : (ke depan) Oooooooo, jiwa yang tak lebih berharga dari pada jiwa seekor anjing. Berapa banyaknya air mata yang harus dicucurkan para ibu untuk mengenang murid-murid ayahmu yang hangus terbakar bersama pesantren yang dicintainya, Ahmad. 74. AHMAD : (tegas) Tapi, siapakah yang akan mencucurkan untuk rubuhnya ibuku? Siapa yang suka berkata: ”Akan kutuntut kematian ini!” Siapa yang akan membalas dendamnya? 75. MARJOSO : Diam kau! (Ahmad tertunduk). Angkat mukamu, pengkhianat! Pandanglah aku untuk kali yang penghabisan. Karena malam ini juga rakyat menuntut darahmu. 76. AHMAD : Aku tidak sudi memandang muka seorang pembunuh. 77. MARJOSO : (tersentak sejurus) Angkat mukamu, pengecut. 78. AHMAD : (mengangkat mukanya perlahan-lahan) Aku telah mengangkat mukaku, Marjoso. Aku telah mengangkat mukaku, seperti dulu, tatkala kudengar serentetan tembakan. Dan kemudian rubuhlah ibuku .... mati. Aku telah mengangkat mukaku. Marjoso. 79. MARJOSO : (setelah berfikir) Dengarkan aku, bicara! Pandanglah aku untuk penghabisan kalinya. Kenangkanlah kembali kawan-kawanmu. Kenangkanlah tatkala mereka dengan sepenuh tenaganya mengangkat tangan dan menyeru: MERDEKA.....MERDEKA! kemudian mereka tak kuasa lagi mengepalkan tinjunya. Mereka roboh berlumur darah. Kenangkanlah, betapa api telah memusnahkan mereka. (Ucapan ini mempengaruhi Ahmad, sehingga ia duduk termenung) 80. AHMAD : Aku kenangkan itu. Aku menangkan ...... Mereka menang lalu mati. Dan aku ..... Ohhh, kemudian .... Letupan yang dasyat a ... aku terlempar. Aku lihat ayah .... Terbungkuk-bungkuk dan lari bersama Zulaecha. Aku menyeru mereka ... tapi tak terdengar. Aku hanya mendengar suaraku sendiri. Aku juga mendengar suara ayahku. Syahid, ya anakku” kemudian fajar yang memerah, yang kian terang. Aku lihat ..... Oh, siapa yang akan menuntut balas kematiannya? Siapa? (menggigil, tangannya gemetar) Marjoso! ..... 81. MARJOSO : (memanggil seorang prajurit) Sersan! (seorang prajurit menghadap) Bawa tawanan itu ke dalam. 82. AHMAD : (tergagap-gagap) Marjoso. Engkaulah .... Engkaulah..... (Ahmad tak dapat melanjutkan perkataannya prajurit itu telah membawanya) (Marjoso tertegun, suara nyanyian terdengar makin keras, kemudian terdengar ketukan pintu) 83. MARJOSO : Masuk! ..... (H. Jamil masuk) Pak Kyai .... 84. HAJI JAMIL : Terlalu terhormat kalau dia di tembak. Seharusnya dia digantung. 85. MARJOSO : Silakan bapak duduk. Saya ingin mendengarkan pertimbangan-pertimbangan bapak. 86. HAJI JAMIL : Pertimbangan apa? Ragukah kau menggantung dia? 87. MARJOSO : Bukan begitu, bapak. Ahmad sudah terang bersalah. Dan dia harus menerima hukumannya. Namun, pada saat-saat terakhir, karena bapak adalah ayahnya, saya juga perlu mendatangkan bapak kemari. 88. HAJI JAMIL : Dia bukan anakku. Haji Jamil tidak mempunyai anak pengkhianat. 89. MARJOSO : Harap diingat, Pak. Malam ini adalah malam terakhir bagi Ahmad. Tentulah bapak sependapat dengan saya, bahwa saat-saat yang paling penting dalam kehidupan manusia adalah saat manusia menghadapi mautnya. Saat-saat itu memerlukan persiapan dan bimbingan. Pada saat-saat terakhir, saya ingin dia mati sebagai putra bapak, sebagai murid Pak Kyai. Saya ingin dia mati bukan sebagai anjing. 90. HAJI JAMIL : Kutukan apa yang ditimpakan kepadaku ini? Oh anakku? 91. MARJOSO : Pak Kyai! 92. HAJI JAMIL : Aku telah besarkan anak itu. Aku turunkan ilmuku, karena dialah yang kuharapkan segala-galanya. Tetapi, mengapa dia tidak mengerti perjuangan bangsanya sendiri? Aku sungguh tidak mengerti. Balasan apa yang harus kuterima ini, Marjoso? 93. MARJOSO : Pak Kyai tidak boleh menyesali diri hanya lantaran dia. Beratus-ratus murid bapak, bahkan beribu-ribu yang senantiasa menyebut-nyebut nama Kyai dengan hormat dan khidmat. Beribu murid yang akan mewarisi cita-cita bapak, dan meneruskan cita-cita itu. Marilah kita tidak bicarakan hal itu. Kini kita membicarakan seorang putra, yang walau betapa sesat pun, dia masih seorang putra. 94. HAJI JAMIL : (getir) Bagaimana harus kujawab, kalau seandainya pada hari pengadilan tertinggi yang Maha Kuasa bertanya padaku tentang tanggung jawabku. Mengapa anakmu menjadi musuh bangsaku, Haji Jamil? Bagaimana kau mendidiknya? 95. MARJOSO : Demi sesungguhnya ,Pak Kyai, bagaimana kita harus melawan suratan Tuhan? Adalah takdir semata kalau Ahmad berbeda dengan ayahnya. 96. HAJI JAMIL : (tersentak agak gusar) Takdir semata? Apa yang kau ketahui tentang takdir, Marjoso? Tuhan memberikan kebaikan-kebaikan kepada kita, Tuhan memberikan kekuatan-kekuatan kepada kita. Tuhan memberikan kekuatan-kekuatan untuk melawan keburukan-keburukan pada kita. Tuhan memberikan alat-alat yang kita perlukan untuk memenuhi panggilannya sebagai makhluk semulianya makhluk. Tuhan tidak menakdirkan Ahmad sebagaia musuh bangsanya. Dia sendiri yang berbuat begitu. Dia sendiri yang menentukan harus mati sebagai dia. Tuhan memberinya akal, mengapa tidak dipergunakan akalnya untuk menginsyafinya, bahwa perbuatan yang sehina-hinanya di permukaan bumi ini adalah mengkhianati bangsanya sendiri. 97. MARJOSO : Terima kasih, Pak Kyai. 98. HAJI JAMIL : Anak itu harus mempertanggungjawabkan seluruh dosanya. 99. MARJOSO : Saya ingin mempertemukan dia dengan ayahnya. Mungkin ini adalah pertemuan kyai yang penghabisan, dalam keadaan dia masih mungkin dibimbing ke jalan yang diridhoi Allah, walaupun beberapa saat sebelum ia harus mati. Sukakah Pak Kyai memenuhi permintaan saya ini? 100. HAJI JAMIL : (terdiam sejurus) Dapatkah aku penuhi permintaanmu itu, Marjoso? 101. MARJOSO : Mengapa tidak, Pak Kyai? 102. HAJI JAMIL : Dapatkah aku berhadapan dengan anjing yang harus kupangil anakku? 103. MARJOSO : Pak Kyai ........... mengapa tidak? 104. HAJI JAMIL : Tidak, ......tidak! .........Gantung saja dia! Tak perlu aku melihat mukanya lagi. 105. MARJOSO : Benar-benar relakah Pak Kyai? 106. HAJI JAMIL : Aa..., aku rela! 107. MARJOSO : Namun, dialah putra yang pernah Pak Kyai harapkan, dialah putra yang pernah Pak Kyai bisikkan dalam telinganya kalimat azan tatkala ia lahir. Masih ada beberapa saat lagi di mana bapak mungkin bisa mengharapkan sesuatu darinya, penyesalan umpamanya, atau taubat nasukha. 108. HAJI JAMIL : Tidak! Tidak ada gunanya sedikitpun mengharap dalam nama Allah. 109. MARJOSO : Tidak inginkah Pak Kyai agar Ahmad mati dengan menyebut nama Allah? 110. HAJI JAMIL : Tidak! 111. MARJOSO : Tidak, Pak Kyai? 112. HAJI JAMIL : (setengah mengharap) Oh, Marjoso ............. Aku telah berharap-harap dan harapanku dihancurkan, dimusnahkannya .................. 113. MARJOSO : Pak Kyai, aku mohon sudi kiranya ...... 114. HAJI JAMIL : (cepat menyahut) Tak perlu, Marjoso, tak perlu aku lihat mukanya lagi. 115. MARJOSO : (berfikir sejurus) Baiklah Pak Kyai, saya sudah menawarkan kesempatan. (memanggil seorang prajurit) Sersan! (seorang prajurit menghadap) Sudah siap regu tembak? 116. SERSAN : Siap, Pak! 117. HAJI JAMIL : (bingung dan gugup) Nanti dulu, dia akan ditembak sekarang? 118. MARJOSO : Saya menundanya hanya untuk memberikan kesempatan pada Pak Kyai. 119. HAJI JAMIL : (mengeluh) Oh, Tuhan, mengapa kau timpakan bencana ini kepada hamba-Mu? Hamba-Mu yang tak sekejappun melupakan engkau! 120. MARJOSO : Pak Kyai! 121. HAJI JAMIL : Mengapa justru di akhir hayatku Engkau panggil semua yang kucintai. 122. MARJOSO : Tawakallah Kyai! 123. HAJI JAMIL : (menenangkan dirinya) Asstaghfirullah! ........... Ampunilah aku lantaran menyesali engkau (kepada Marjoso). 124. MARJOSO : (memerintah Sersan) Sersan! Bawa Ahmad menghadap! 125. SERSAN : Siap, Pak! (berangkat) 126. MARJOSO : Tenangkanlah jiwa Pak Kyai. 127. HAJI JAMIL : Aku telah kehilangan segala-galanya. 128. MARJOSO : Kecuali iman, Pak Kyai 129. HAJI JAMIL : Yaaaach, kecuali iman. 130. KURIR : (masuk) Seorang anak wanita bernama Zulaecha minta menghadap, Letnan! 131. MARJOSO : (memandang Kyai seolah meminta pertimbangan) Zulaecha Pak Kyai. 132. ZULAECHA : (sebelum kurir keluar, Zulaecha sudah meuncul di pintu) 133. HAJI JAMIL : Mengapa kau ikut kemari? 134. ZULAECHA : Aku ingin melihat abangku. 135. HAJI JAMIL : Mengapa kau pedulikan dia? 136. ZULAECHA : Dia abangku, ayah, tidak bolehkah aku melihat abangku? 137. MARJOSO : Tentu saja engkau boleh menemuinya. 138. HAJI JAMIL : Tidak! 139. ZULAECHA : Mengapa aku tidak boleh menemuinya ayah? 140 HAJI JAMIL : Anjing geladak itu segera mampus! 141. ZULAECHA : Ayah! ..... Ayah mengatakan anakmu Bang Ahmad anjing geladak? 142. HAJI JAMIL : Itu lebih baik daripada nama pengkhianat nusa dan bangsa. 143. ZULAECHA : Tapi dia anakmu, ayah. 144. HAJI JAMIL : Zulaecha. Engkau mencoba mempengaruhi peradilan ini dengan emnghbungkan darah? 145. MARJOSO : Kholifah Umar membunuh anaknya sendiri yang durhaka (menginsyafkan Zulaecha) 146. ZULAECHA : Ayah, aku anakmu ........... Dia anakmu. Dia satu-satunya saudaraku. Satu-satunya .............! 147. HAJI JAMIL : Cukup! Pulang kau! Aku rela dia dibunuh. Aku rela dia dilenyapkan. Karena dengan lenyapnya dia, lenyap pula satu di antara beratus-ratus penghalang untuk kemenangan republik. 148. MARJOSO : Terima kasih, Pak Kyai, izinkan saya menemuinya dahulu. (keluar) 149. ZULAECHA : Ayah, kalaupun dia mati, kepada siapa aku berlindung? Kepada siapa aku harus menumpangkan diri, kalau ............ kalau takdir Tuhan menghendaki Ayah kembali kepadanya. 150. HAJI JAMIL : Zulaecha! 151. ZULAECHA : Kepada siapa, Ayah? 152. HAJI JAMIL : Kepada Yang Maha Pelindung, Allah SWT. 153. ZULAECHA : Kalau pada suatu saat aku minta pertolongan, ayah? 154. HAJI JAMIL : Kepada Yang Maha Kuasa! 155. ZULAECHA : Hanya itu, Ayah? 156. HAJI JAMIL : Kepada-Nya-lah aku serahkan engkau. Bukan saja nanti, tapi sekarang juga! Sekarangpun aku senantiasa memohon perlindungan Tuhan bagimu. 157. ZULAECHA : (terdiam sejurus) Ayah, kalau seorang datang kepadamu menyatakan taubatnya dan memintakan perlindunganmu ........ apa yang akan ayah perbuat? 158. HAJI JAMIL : Aku doakan agar ia diterima taubatnya oleh Allah SWT. Aku tidak punya hak untuk melindungi orang yang telah banyak dosa. 159. ZULAECHA : Ayah, nabipun tak pernah membunuh orang yang telah mencoba akan membunuhnya. 160. HAJI JAMIL : Aku bukan nabi! 161. ZULAECHA : Tapi kita wajib mengikuti sunnah nabi! Bukankah begitu, Ayah? 162. HAJI JAMIL : Anakku, kau mengajari ayahmu, Nak? Tahukah engkau, siapa abangmu itu? Dosa apa yang telah diperbuatnya? 163. ZULAECHA : Aku tahu, Yah! 164. HAJI JAMIL : Mengapa kau membelanya? 165. ZULAECHA : Karena dia abangku. Tanpa dia aku akan sendirian. 166. HAJI JAMIL : Kita hidup bersama amal kita, anakku. Kita hidup bersama budi kita. Beramallah, berbudiluhurlah, berbuatbaiklah. Dan engkau tidak akan kehabisan saudara. Kau akan merasakan bahwa sesungguhnya kemanusiaan adalah satu keluarga. Kemanusiaan adalah satu darah, satu urat, satu cita-cita. 167. ZULAECHA : Ayah, ............... Berilah Bang Ahmad kesempatan untuk menebus dosanya, dengan amal saleh. 168. HAJI JAMIL : Kesempatan itu telah disia-siakan. Bukan aku yang harus memberi kesempatan seperti itu kepadanya. Tetapi, apakah perjuangan yang meminta korban harta dan jiwa ini, relaa memberi kesempatan bagi hidup seorang serti dia? 169. ZULAECHA : (mengeluh) Oh, ayah, setiap kita pernah bersalah, mengapa tak ada ampun bagi dia? 170. HAJI JAMIL : (cemas) Tapi, tidak setiap kita telah membakar pesantrennya sendiri, Zulaecha! 171. ZULAECHA : (memandang tajam ayahnya) Tidak! Dia tidak membakarnya.......... oh, ayah, aku tahu apa yang diperbuatnya, (mendesak) dia tidak membakarnya .... aku tahu benar, dia tidak membakarnya .... aku tahu benar, mengertilah, Ayah! 172. HAJI JAMIL : Tapi dia telah menunjukkan tempat persembunyian prajurit gerilya itu! Dia yang menjadi penyebab kehancuran ini. 173. ZULAECHA : Mungkin dia tidak rela, sebuah pesantren dijadikan tempat persembunyian prajurit gerilya. 174. HAJI JAMIL : Tidak rela? Pikiran apa itu? Tidakkah ia tahu bahwa di dalam pesantren itu aku mengajarkan murid-muridku, dan apa yang kuajarkan kepada mereka? Aku ajarkan kecintaan kepada agama, kecintaan kepada tanah air, dan kecintaan kepada bangsa. Tidakkah ia tahu, di dalam pesantren itulah aku menyiapkan pemuda-pemuda yang jiwanya ditempa kepercayaan tauhid, yang mewajibkan kita bertahan, bersatu, dan bila diserang wajib kita balas serangan itu, oleh karena Islam tidak rela dijajah siapapun. 175. ZULAECHA : (terdiam sejurus) Ayah, masih ingatkah ayah tatkala ibu tewas, tubuh itu hancur oleh peluru. 176. HAJI JAMIL : Itu bukan salah siapa-siapa. Kematian ibumu, salahnya ibumu sendiri. 177. ZULAECHA : Tapi, siapakah yang menewaskan ibu, ayah? Siapakah yang menembaknya, ayah? 178. HAJI JAMIL : Sudah kuperingatkan supaya ibumu jangan lari, tatkala kita terkepung musuh, sebab hal itu bisa menunjukkan tempat persembunyian prajurit kita. 179. ZULAECHA : (mendesak terus) Tapi, siapa yang menembak? Aku ingin jawaban ayah. Siapa yang menembak? 180. HAJI JAMIL : Ibumu tidak dapat menguasai ketenangan jiwanya dan lari. 181. ZULAECHA : Dan kemudian serentetan tembakan, dan ibu jatuh, rubuh tak bangun-bangun lagi. (nada keras) Peluru siapakah yang merubuhkannya? Peluru siapa? 182. HAJI JAMIL : (tegang menahan perasaan) Peluru Marjoso! 183. ZULAECHA : Ya. Peluru dari murid yang paling ayah kasihi, lebih dari mengasihi anaknya sendiri. 184. HAJI JAMIL : Tapi itu adalah hak Marjoso untuk berbuat begitu, apa artinya satu jiwa bagi beribu-ribu jiwa yang dalam tanggungannya. 185. ZULAECHA : Namun dia adalah penyebab kematian ibu. Orang itu masih ayah lindungi juga, ayah beri tempat persembunyian di pesantren. Dapatkah abang disalahkan, kalau sejak saat itu dia mendendam? Karena dendam itulah dia menunjukkan tempat persembunyian Marjoso, tapi pesantren itu terbakar semuanya. Belandalah yang membakarnya, bukan Ahmad. Dapatkah Bang Ahmad disalahkan? Karena dendam sudah menutupi seluruh kesadarannya. Sadarlah, ayah! 186. HAJI JAMIL : (mengeluh) Begitu banyak korban telah jatuh ...... 187. ZULAECHA : Tapi apakah ia sengaja memusuhi perjuangan, atau hanya memburu musuh pribadinya karena dia butuhkan, dan dia butakan dendam, ia hanya akan melepaskan sebutir peluru pada dada pembunuh ibunya, tapi malang, Bang Ahmad tertangkap, dan kini dia harus mati sebelum tuntutannya terpenuhi. Salahkah dia kalau begitu mencintai ibunya? (menyerang terus) Ayah, mintalah kebebasan baginya. Marjoso adalah murid ayah. Pergunakan pengaruh ayah untuk kebebasan anakmu Ahmad. Dia tidak bersalah, satu-satunya kesalahan dia adalah terlalu cinta kepada ibunya. 188. HAJI JAMIL : (komat-kamit sendiri) Dapatkah ..... Dapatkah aku berbuat begitu? 189. ZULAECHA : Ayah harus berbuat begitu. 190. HAJI JAMIL : (marah) Mengapa aku harus berbuat begitu, Zulaecha? 191. ZULAECHA : Karena dia adalah anakmu. 192. HAJI JAMIL : Hanya karena dia anakku? 193. ZULAECHA : Karena dia kini menderita, Ayah! 194. HAJI JAMIL : Bagaimana dengan korban-korban yang telah tewas lantaran dia? Bisakah mereka mengijinkan saya? 195. ZULAECHA : Ini semata-mata korban, Ayah. 196. HAJI JAMIL : Kita semua adalah korban. Korban dari keserakahan suatu bangsa yang ingin menjajah dan mengisap. Justru itu kita berjuang, menghancurkan mereka, kita berjuang agar bumi kita yang kaya-raya ini tidak menjadi tempat berlaganya serigala-serigala lapar yang menamakan dirinya manusia. Zulaecha, mengapa kau bicara tentang korban? (Zulaecha akan bicara tetapi Haji Jamil segera menggerakkan tangannya) Jangan sela aku dulu! 197. ZULAECHA : (mulai berbisik) Namun Ayah, .............. Ayah… 198. HAJI JAMIL : (mengangkat suaranya) Jangan kau perlemah hatiku. Tidak! Aku serahkan anak laki-lakiku satu-satunya untuk revolusi, atau sebagai pahlawan, atau sebagai pengkhianat, namun........aku serahkan dia. 199. MARJOSO : (masuk dengan tenang) Yah, dia boleh mati sebagai pengkhianat atau panglawan, sebab revolusi hanya mengenal dua ini, pahlawan revolusi atau pengkhianat revolusi. Zulaecha! Engkau tidak boleh membawa persoalan kematian ibumu, dalam persoalan abangmu. Revolusi tidak mengenal arti korban perseorangan, revolusi tidak mengenal siapa bapak, ibu atau anak. Revolusi hanya mengenal pengkhianat revolusi atau pahlawan revolusi. 200. ZULAECHA : (tak terkendalikan lagi, marahnya memuncak) Kau pembunuh! Pembunuh! Engkau membunuh ibuku! Dan kini kau akan membunuh abangku, dua orang yang paling kucintai. Tapi tunggu, Marjoso! Ibu masih mempunyai anak satu orang lagi. 201. HAJI JAMIL : (mengatasi anaknya) Zulaecha, engkau akan menjadi pengkhianat seperti abangmu? 202. ZULAECHA : (tersedu-sedu) Aku tak rela, Ayah ........Aku tak rela. 203. HAJI JAMIL : (menenangkan) ............. Diamlah, Anakku, ........ Diamlah. 204. MARJOSO : (penuh perasaan) Apalah artinya korban satu atau dua jiwa yang kita cintai untuk perjuangan suci ini? 205. HAJI JAMIL : Marjoso, maafkan adikmu, Nak! 206. ZULAECHA : (bangkit dari isakannya dan mengancam) Tidak! Aku tidak perlu meminta ampun kepada pembunuh. 207. MARJOSO : (memandang jauh ke depan) Zulaecha, perlukah aku bangga-banggakan korban-korban untuk tanah air ini? Perlukah aku katakan bahwa tak lebih dari satu bulan yang lalu aku juga mengalami kesedihan yang dalam, kedua orang tuaku dua-duanya ditangkap Belanda, dan meninggal dalam penjara. 208. HAJI JAMIL : Marjoso! Benar, Nak? 209. MARJOSO : (tak bergerak) Zulaecha, kalau engkau menuntut kematian ibumu lantaran perbuatanku, sesungguhnya telah aku penuhi permintaan itu. Aku berikan arwah ibuku untuk arwah ibumu, karena abangmu jua yang menyebabkan kematian mereka, dia yang telah menyebabkan aku menjadi sebatang kara, tetapi perlukah aku katakan itu semua? Namun aku telah relakan ................. kedua orang tuaku. Seperti aku telah relakan diriku untuk revolusi besar ini. Aku memohon, semoga darah mereka yang mengalir akan mempercepat datangnya fajar kemenangan yang diharap-harapkan tujug puluh juta bangsa. 210. HAJI JAMIL : Jangan kau lemahkan hatimu, anakku, jangan kau lemahkan. 211. MARJOSO : Kini Pak Kyai satu-satunya orang tuaku. 212. HAJI JAMIL : Sejak dulu kau adalah anakku. 213. ZULAECHA : (menahan isaknya, mengangkat kepala, berdiri akan berbicara tetapi kata-katanya tak dapat keluar kemudian lari meninggalkan tempat itu. Haji Jamil tak sempat bicara. Marjoso menarik nafas) 214. MARJOSO : Kini tiba saatnya Pak Kyai, tibalah saatnya bertemu dengan Ahmad. 215. HAJI JAMIL : (berat menjawab) Baik, bawalah kemari. 216. MARJOSO : (bergerak ke mejanya dan diam sejenak, kemudian memanggil seorang prajurit) Sersan! Bawa tawanan itu kemari. 217. SERSAN : (datang menghadap) Siap, Pak! 218. MARJOSO : Bawa tawanan itu kemari! 219. SERSAN : Siap Pak! (kemudian pergi) 220. MARJOSO : Kiranya Pak Kyai dapat memberinya nasihat terakhir semoga ia menginsyafi kesalahan-kesalahannya. 221. SERSAN : (masuk membawa Ahmad menghadap Marjoso. Ahmad terkejut melihat ayahnya di situ, kemudian membuang muka) 222. HAJI JAMIL : (MENATAP WAJAH ANAKNYA) KETIKA PESANTREN ITU DALAM KOBARAN API, AKU MELIHAT JIWA MERINTIH. JIWA-JIWA YANG IGIN MENUNTUT BALAS, NAMUN TAK BERDAYA LAGI. PADA SAAT ITU AKU MEMOHON KEPADA TUHAN YME ...... ” YA, ALLAH, BAWALAH DIA YANG TELAH MEMBAKAR RUMAH INI TEMPAT HAMBA-MU MENGAGUNGKAN NAMA-MU, DAN MEMENUHI PANGGILAN-MU, BAWALAH DIA KEPADAKU AGAR AKU BISA MENYAMPAIKAN HASRAT MEREKA YANG TAK KUASA LAGI MENGANGKAT TANGAN UNTUK MENUNTUT KEADILAN, DAN KINI TUHAN TELAH MENGABULKAN. DIA ... DIA ADALAH ANAKKU SENDIRI, DARAH DAGINGKU SENDIRI. (SEJURUS DITATAPNYA ANAKNYA) AHMAD! BERLUTUT KAU! BERLUTUT! MINTALAH AMPUN KEPADA BUMI TANAH-AIRMU, TANAH AIR YANG TELAH KAU KHIANATI. 223. AHMAD : (TAK BERPERASAAN) AKU TIDAK MENGKHIANATI TANAH AIRKU. 224. HAJI JAMIL : TANGANMU BERLUMUR DARAH, DAN DARAH ITU ADALAH DARAH KAWAN-KAWANMU SENDIRI, AHMAD. 225. AHMAD : AKU TIDAK PERNAH MEMBUNH SEORANGPUN. 226. MARJOSO : YA, MEMANG KAU TAK PERNAH MEMBUNUH SEORANGPUN DENGAN TANGANMU. TAPI KHIANATMU! JIWA BUDAKMU! .... JIWA BUDAKMU! 227. AHMAD : KENAPA AKU TIDAK BOLEH MEMBUNUH MUSUHKU? KENAPA AKU TIDAK BOLEH MEMBUNUH, MEMBALAS DENDAM KEMATIAN IBUKU? APAKAH HARGANYA AKU SEBAGAI ANAK LAKI-LAKI, KALAU PEMBUNUH IBUKU DIBIARKAN SAJA TANPA SUATU PEMBALASAN? 228. MARJOSO : (BANGKIT MEMUKUL MEJA) KAU TAK BERHAK MEMAKAI ALASAN ITU UNTUK MEMPERSUCI DIRIMU! 229. AHMAD : (MELUDAH BENCI) DI MATAKU ENGKAU TAK BERHARGA SEDIKITPUN, MARJOSO. 230. HAJI JAMIL : AHMAD! 231. AHMAD : AYAH AKAN MEMBELA DIA? 232. HAJI JAMIL : YA. AYAH AKAN MEMBELA DIA, LANTARAN DIA BENAR. 233. MARJOSO : ENGKAU SELALAU MEMBAWA SOAL IBUMU, BAIK, AHMAD! SIAPA YANG TELAH MENUNJUKKAN TEMPAT PERSEMBUNYIAN KEDUA ORANG TUAKU? SIAPA YANG TELAH MENYURUH MEREKA UNTUK MENJEBAKKU? JAWAB! SIAPA? 234. AHMAD : (TEGAS) AKU! 235. HAJI JAMIL : OH, AHMAD, DI MANA LAGI HATIMU? 236. MARJOSO : TAPI KAU TAK BERHASIL MENJEBAK AKU, NAMUN KEDUA ORANG TUAKU DITANGKAP DAN MEREKA TAK ADA LAGI KINI. MEREKA MANGKAT AKIBAT SIKSAAN-SIKSAAN YANG KEJI. 237. AHMAD : (GEMETAR) TIDAK! ............... TIDAK! .............. 238. MARJOSO : MENGAPA TIDAK? MEREKA ADALAH KORBANMU. SEKARANG APA MAUMU? KAU MEMBURU AKU? KORBAN BERJATUHAN KARENA DENDAMMU, KINI KAU BERHADAPAN DENGAN AKU (MENGAMBIL PISTOL DARI MEJA) INI ADA SEPUCUK PISTOL UNTUK KAU PAKAI MENGHABISI MUSUHMU. TERIMALAH! (MELEMPAR PISTOL ITU KE HADAPAN AHMAD, DAN AHMAD MENERIMANYA, KEMUDIAN MARJOSO MENCABUT PISTOLNYA SENDIRI) MARILAH KITA HABISI DENDAM DI ANTARA KIA. (AHMAD DIAM TERPAKU, PISTOL DI TANGAN BELUM DIAPA-APAKAN, MARJOSO BERGERAK MENJAUH. HAJI JAMIL TERPAKU TAPI TAK SEGERA MENENGAHI KEDUANYA) 239. HAJI JAMIL : JANGAN! JANGAN KALIAN SALING MEMBUNUH. KALIAN BERSAUDARA, KALIAN ADALAH ANAKKU. 240. MARJOSO : KALAU AKU HARUS MATI LANTARAN PELURUNYA, PAK KYAI, AKU HARUS IKHLAS MATI UNTUK MEYAKINKAN DIA DAN ORANG-ORANG SEPERTI DIA, BAHWA DALAM PERJUANGAN INI TIDAK HARUS DIPERHITUNGKAN UNTUNG RUGI PERSEORANGAN. AKU IKHLAS MATI UNTUK MEYAKINKAN SEMUA ORANG, BAHWA SEBAB YANG AKAN MENGGAGALKAN REVOLUSI INI IALAH, MANAKALA ORANG MASIH TIDAK MELEBURKAN DIRINYA SENDIRI KE DALAM LEBURAN YANG TIDAK LAGI MENGENAL SIAPA AYAH, SIAPA IBU, DAN SIAPA ITU SAUDARA. 241. HAJI JAMIL : MARJOSO, ANAKKU, KAU TIDAK BOLEH MENGORBANKAN DIRI UNTUK MANUSIA YANG BEGINI RENDAHNYA. 242. MARJOSO : KORBAN TELAH CUKUP BANYAK, KYAI. SEORANG DEMI SEORANG KAWAN-KAWAN GUGUR LANTARAN SOAL DENDAM-MENDENDAM INI. AKU MERASA IKUT BERSALAH JUGA KYAI (KETERANGAN INI MELIPUTI KETIGA ORANG ITU) (AHMAD TAMPAK TAK DAPAT MENGUASAI DIRINYA, MARJOSO MENGANGKAT PISTOLNYA, HAJI JAMIL MEMALINGKAN MUKA, SEDIH, DAN PUTUS ASA DALAM KECEMASAN) Angkat pistolmu agar kau mati dengan tidak membawa dendam ke dlam kubur. Aku akan menghitung sampai tiga kali, maka tembaklah aku dan aku akan menembakmu. (Ahmad tidak menjawab, ia mengangkat pistolnya tapi jelas tangannya mulai gemetar. Marjoso menatapinya dengan tenang. Jarak mereka kira-kira empat langkah dipisahkan oleh meja, Haji Jamil berdiri di tengah-tengahnya) 243. HAJI JAMIL : NAH, MULAILAH NEMBAK KALIAN BERDUA. MULAILAH MENEMBAK AHMAD, MULAILAH MENEMBAK MARJOSO! (KEDUA-DUANYA TAK BEEGERAK, MULAI MENURUNKAN PISTOLNYA. MARJOSO TERPAKU DIAM, KERINGAT MENGALIR DI DAHINYA) KALIAN ORANG-ORANG YANG DIKUASAI DENDAM DAN NAFSU. 244. AHMAD : (SEKONYONG-KONYONG BERSERU DAN BERLUTUT, MENJATUHKAN BADANNYA DI MEJA DAN MENANGIS. AIR MATA MULAI MENGUMPUL, HAJI JAMIL MENGHAMPIRI DAN KEMUDIAN KEDUA ORANG ITU, AYAH DAN ANAK SALING BERPELUKAN DENGAN MESRANYA) AYAH! ..... 245. HAJI JAMIL : AHMAD ............... OH, AHMAD ......... KAU ANAKKU! KAU ANAKKU! 246. AHMAD : (TAK BISA MENGUASAI DIRINYA) AYAH, MENGAPA AKU HARUS BEGINI? 247. HAJI JAMIL : (MENGGELETAR) AKU SERAHKAN ENGKAU KEPADA TUHAN. SEMOGA TUHAN MENGAMPUNI ENGKAU, AKU AMPUNI DOSAMU KEPADAKU, TETAPI DOSAMU TERHADAP ORANG LAIN PERTANGGUNGJAWABKAN SENDIRI TERHADAP TUHANMU. ENGKAU ANAKKU. MATILAH ENGKAU SEBAGAI ANAKKU! SEBAGAI SEORANG MUSLIM YANG MENGERTI ARTI TAUBAT, JANGANLAH ENGKAU MENANGIS KARENA SEDIH AKAN BERPISAH DENGAN AKU, TETAPI MENANGISLAH KARENA TELAH TERLALU BANYAK BERBUAT DOSA! 248. AHMAD : (DENGAN PENUH KERAGUAN DAN PENYESALAN YANG DALAM) AYAH, ....... DI MANAKAH ADIKKU ZULAECHA? 249. HAJI JAMIL : DIA DALAM KEADAAN SEHAT DAN BAIK-BAIK SAJA. 250. AHMAD : AYAH, SAMPAIKAN SALAMKU PADANYA ... AGAR IA TETAP MENJADI PATRIOT BANGSA DAN PEMBELA TANAH AIR MENGIKUTI JEJAK AYAHNYA. 251. MARJOSO : AHMAD, SAATMU SUDAH TIBA! 252. AHMAD : (TERSENTAK SEKETIKA TERTEGUN MEMANDANG AYAHNYA DAN MARJOSO. DENGAN BERAT LALU MELANGKAHKAN KAKI MENUJU KELUAR DIIKUTI OLEH MARJOSO DAN SERSAN) 253. HAJI JAMIL : (MENGIKUTI DENGAN PANDANGAN PENUH ARTI, KEMUDIAN BEBERAPA SAAT TERDENGAR TEMBAKAN TIGA KALI, PERTANDA TAMATNYA RIWAYAT AHMAD, KEMUDIAN HAJI JAMIL MELANGKAH KE TENGAH PANGGUNG DENGAN PANDANGAN YANG DALAM DAN JAUH SEKALI) .......... TUHANKU, INILAH PERTANDA DATANGNYA FAJAR KEMENANGAN. KEMERDEKAAN BANGSA DAN NEGARAKU. SELESAI

Naskah Drama : DEWI MASYITOH

DEWI MASYITOH Karya: Puthut Buchori 001.Lagu Para Pekerja Ya Allah yang esa, zat yang bijaksana kami kaum pekerja, miskin papa selalu dihina dan kerja paksa namun kami tetap mengagungkan nama-Mu Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar kami bekerja atas nama-Mu Bismillah, Bismilllah, Bismillah kami bekerja dijalan-Mu selalu Alhamdulillah kami masih mendapat Anugerah sehat-Mu Ya Allah yang Khaliq, yang maha penyayang segala puji bagi-Mu kami makhluk dan akan hanya menyembah-Mu dalam sakit, dalam gembiraku DI TENGAH KAUM PEKERJA YANG SEDANG MENJALANI KERJA PAKSA, MASYITOH DAN PUTRI FIRAUN MENYAKSIKAN PARA PEKERJA ITU DICAMBUK, DISIKSA UNTUK BEKERJA PAKSA DEMI CITA-CITA DUNIAWI RAJA FIRAUN. 002.MASYITOH : Lihatlah putri, para pekerja itu, dicambuk, ditendang bagai binatang-binatang, hanya demi cita-cita duniawi yang hanya sesaat. 003.PUTRI FIRAUN : Apa artinya ibu Masyitoh ? 004.MASYITOH : Artinya segala sesuatu yang ada didunia ini hanya sesaat belaka, hidup di dunia hanya sementara. Kelak setelah kita mati, baru akan kekal di akhirat. 005.PUTRI FIRAUN : Akhirat itu apa ? 006.MASYITOH : Adalah alam setelah kita mengalami penantian di alam kubur. Alam setelah kita dihisab, dihitung amal kebaikan kita, dan pebuatan-perbuatan dosa kita. 007.PUTRI FIRAUN : Apakah para budak, hamba-hamba ayahanda Firaun itu juga ikut akan dihitung. 008.MASYITOH : semua, semua akan mendapat perlakuan yang sama. 009.PUTRI FIRAUN : Sama ? 010.MASYITOH : Ya sama, semua orang adalah sama di hadapan Allah. 011.PUTRI FIRAUN : Allah ? PARA PEKERJA PERLAHAN-LAHAN MENINGGALKAN PANGGUNG. TINGGAL MASYITOH DAN PUTRI FIRAUN. 012.PUTRI FIRAUN : Allah ? Allah itu siapa sih ibu ? 013.MASYITOH : Allah adalah… 014.PUTRI FIRAUN : Siapa ibu ? 015.MASYITOH : ( MENYANYI SAMBIL MENYISIR RAMBUT PUTRI FIRAUN) Allah adalah penguasa semesta pencipta langit dan bumi penguasa siang dan malam yang menentukan hidup dan mati seseorang Allah adalah zat yang harus disembah hanya kepada Dia kita patut menyerah hanya oleh Dia kita bisa kalah hanya Allah tujuan kita beribadah 016.PUTRI FIRAUN : Oh begitu ? Jadi Allah itu adalah nama lain dari ayahanda Firaun? SISIR MASYITOH TIBA-TIBA TERLEPAS DARI TANGAN DAN JATUH KE LANTAI. 017.MASYITOH : Inalillahi wa ina ilaihi roji’un (SAMBIL MEMUNGUT SISIR YANG JATUH) Bukan… 018.PUTRI FIRAUN : Bukan ? 019.MASYITOH : Ya, bukan! Ayahandamu Firaun bukanlah Allah, karena tidak ada sekutu bagi Allah, Allah itu esa, tunggal. Sedangkan ayahandamu Firaun adalah manusia biasa, seperti hanya kita, di depan Allah sama derajatnya dengan kaum pekerja. 020.PUTRI FIRAUN : Ibu jangan sembrono, nanti kalau ayahanda mendengar, beliau pasti akan murka. Apa ibu tidak takut. 021.MASYITOH : Yang patut di takuti manusia hanyalah Allah, dan bukan siapa-siapa. 022.PUTRI FIRAUN : (MARAH & MEMBENTAK) Ibu ! 023.MASYITOH : Ibu telah terlanjur berbicara nak, dan ibu memang harus berbicara, karena memang itulah kebenarannya. 024.PUTRI FIRAUN : Tidak ! Aku akan melapor ayah ! (PUTRI FIRAUN LARI KELUAR PANGGGUNG UNTUK MELAPOR AYAHNYA: RAJA FIRAUN) Ayah !…. TIBA-TIBA BEBERAPA ORANG PASUKAN PENGAWAL FIRAUN MENYERBU MASUK RUANGAN YANG DIPAKAI MASYITOH DAN PUTRI FIRAUN. 025.PENGAWAL 1 : Mana Pemberontaknya ? 026.PENGAWAL 2 : Di mana Penghasutnya ? 027.PENGAWAL 3 : Di mana penyusup yang telah memnggangu tuan putri ? 028.PENGAWAL 1 : Ibu Masyitoh. Tahukah kamu orang yang mengganggu tuan putri? 029.PENGAWAL 3 : Katanya penyusup itu ada di ruangan ini ! 030.PENGAWAL 2 : Tunjukkan bu, biar aku cincang dan aku hajar dia ! 031.MASYITOH : (BERBICARA RAGU RAGU) Kalau yang dimaksud sebagai penghasut… adalah orang… yang telah menyamakan Baginda raja Firaun… dengan orang lain…. (TEGAS) Akulah orangnya. 032.PR PENGAWAL : Apa ? 033. MASYITOH : Akulah orang yang tidak percaya kalau Firaun itu adalah tuhan ! FIRAUN DAN PUTRINYA MUNCUL DIIRING DAYANG-DAYANG. 034.FIRAUN : Kurang ajar, keparat ! (Lagu Firaun) Hai budak hina dina budak yang tak tahu di untung kuberi posisi yang enak di kerajaanku kupenuhi banyak kebutuhan hidupmu bahkan aku layakkan kemanusiaanmu tetapi kau malah tidak percaya aku penentu sederajatmu Hai budak keparat beraninya kau menghina rajamu kurang ajarnya kamu menghina tuhanmu ! 035.MASYITOH : Karena engkau memang bukan tuhanku. 036.FIRAUN : Hei Masyitoh ! engkau kurang ajar, beraninya kau berkata seperti itu ! Akan kuhukum kamu ! 037.MASYITOH : Aku tidak takut hukumanmu, itu hanya hukum dunia, yang aku takut adalah hukuman Allah, hukuman akhirat ! 038.FIRAUN : Sudah tinggi pitamku, masih saja engkau berani membanyol ! 039.PUTRI FIRAUN : Ibu, perbaikilah kata-kata ibu, sebelum ayahanda benar-benar murka ! 040.MASYITOH : Putri, ini bukanlah sekedar kata-kata, tetapi ini adalah suatu kebenaran yang harus ditegakkan. 041.PUTRI FIRAUN : Ibu, sudahlah, akhiri pertengkaran ini, aku masih dapat untuk membujuk ayah, bila ibu mau tunduk dan patuh pada perintah ayah. 042.MASYITOH : Tidak putri, ini sudah keputusan ibu, ini sudah pilihan ibu. 043.FIRAUN : Pilihanmu adalah siksa, dan akan aku kabulkan pilihanmu. Pengawal !! Siapkan tungku raksasa !! Seret juga keluarga Masyitoh untuk dihukum. 044.PUTRI FIRAUN : Ayah !! kenapa harus seberat itu. (KEPADA MASYITOH) Ibu maafkan aku ibu, aku tak tahu kalau akan sampai begini jadinya. 045.FIRAUN : Sudah ! diamlah Putri ! ini akan menjadi pelajaran semua orang, bahwa siapa saja yang membangkan akan mendapat hukuman ! (KEPADA ORANG-ORANG) Rakyatku, menghadaplah, aku akan memberi peringatan kepada kalian. BEBERAPA ORANG BERDUYUN-DUYUN MENUJU TEMPAT HUKUMAN. 046.FIRAUN : (LAGU FIRAUN) Rakyatku semua, lihatlah contoh pengkhianatan, saksikan contoh pengingkaran. Budakku yang bernama masyitoh telah membangkang, tidak mengakui kalau aku adalah tuhan, yang menguasai kalian, yang menentukan hidup dan mati kalian. Dan bagi siapa saja yang mengikuti jejak masyitoh, akan bernasib sama, mampus di tungku raksasa. 047.RAKYAT : Ampun tuanku…. 048.FIRAUN : Bagaimana masyitoh ? apakah kamu masih keras kepala ? Dengan disaksikan rakyatku, aku masih akan memberi kesempatan kepadamu ? 049.PUTRI FIRAUN : Ayolah ibu, minta ampun kepada ayahanda Firaun. 050.MASYITOH : Tidak ! keputusanku sudah bulat, pilihanku sudah benar. Tuhanku hanya Allah, tempat aku menyembah, tempat aku berserah. Tidak ada tuhan lain selain Allah. 051.FIRAUN : Allahmu itu siapa, kok begitu hebatnya mau melawan aku, kok berani memusuhiku. 052.MASYITOH : (LAGU MASYITOH) Allah adalah yang menciptakan kita, yang mencipta bumi tempat kita berpijak, yang mengganti siang dan malam, dan yang menentukan hidup dan mati kita. 053.FIRAUN : Tidak bisa ! akulah yang menentukan hidup dan mati seseorang, aku yang memberi wewenang, seseorang itu boleh hidup atau harus mati. Seperti nasibmu sebentar lagi, kalau engkau tetap membangkang, maka kuputuskan engkau mati hari ini. 054,MASYITOH : Astagfirullahaladzim. Engkau sudah benar-benar keterlaluan Firaun, engkau telah dengan sombong menyekutukan Allah. 055.FIRAUN : Mana Allahmu itu, suruh kemari, akan kutantang dia. 056.MASYITOH : Allah tidak tampak di sini, Namun ada di sini, sedekat cinta kita kepadaNYA, sedekat hati kita begitu kita serahkan hidup kepadaNYA. Allah itu dekat ketika kita menginginkan Beliau dekat, dan jauh ketika kita menginginkan jauh. 057.FIRAUN : Jauh dekat, jauh dekat, omong kosong. 058.MASYITOH : Karena memang itu kenyataannya. 059,FIRAUN : Kenyataan apa ? 060.MASYITOH : Kenyataan bahwa aku tidak takut kepada orang yang menyekutukan Allah, karena Allah sangat dekat denganku saat ini. 061.FIRAUN : Dan kau bersama Allahmu itu tidak takut ketika aku godog di atas tungku raksasa ? 062.MASYITOH : Insya Allah, Tidak ! 063.FIRAUN : Juga engkau tidak takut ketika anak-anakmu, suamimu, turut aku godog sampai melepuh ditungku raksasa ? 064.MASYITOH : Insya Allah, Tidak ! PENGAWAL MEMBAWA MASUK ANAK DAN SUAMI MASYITOH. 065.SUAMI : Alhamdulillah. Alhamdulillahirrobbil’alamin, engkau masih tabah pada pendirianmu, engkau masih mencintai Allah. 066.FIRAUN : Nah sekarang sudah lengkap, dan akan lengkap pula penderitaanmu Masyitoh. 067.MASYITOH : Aku bahagia. 068.FIRAUN : Engkau tidak takut sedikitpun ketika anak-anakmu ini aku jadikan sop tanpa bumbu ? 089.ANAK : Jangan takut ibunda, anakmu juga rela mati untuk menegakkan ajaran Allah. 090.MASYITOH : Anakku, Alhamdulillahhirrobbil’alamin. 091.ANAK : Aku rela berkorban ibu, aku ikhlas, aku tidak takut. 092.FIRAUN : Husy ! cerigis ! 093.ANAK : Aku tidak takut padamu firaun, sebab engkau raja yang lalim. yang kutakuti hanyalah Allah. 094.FIRAUN : (SEMAKIN MARAH) Kurang ajar, diam ! 095.PUTRI FIRAUN : Ayah sabar. (KEPADA MASYITOH) ibu Masyitoh sadarlah ibu.. 096.MASYITOH : Maafkan kami putri, untuk masalah ini kami tak bisa tinggal diam.. 097.FIRAUN : (SEMAKIN MARAH) Diam kataku !!! SUATU KEJUTAN, BAYI MASYITOH BISA BICARA. 098.BAYI : Kita jangan bisa diam ibu, kita harus terus menyerukan asma Allah, kita harus terus menerus menegakkan ajaran Allah. 099.PENGAWAL 1 : Bayi bisa bicara ? 100.ORANG 1 : Inikah tanda-tanda kebenaran masyitoh. 101.ORANG 2 : Inikah keajaiban Allah. 102.ORANG 3 : Ya Allah, engkau maha besar. 103.ORANG 4 : Sungguh-sungguh mukjizat. 104.FIRAUN : Jangan percaya, itu sihir ! 105.BAYI : Ini bukanlah sihir, ini kebenaran. kalau engkau memang ingin menghukum kami karena kebenaran, hukumlah kami, kami akan tetap pada pendirian. 106.MASYITOH : Alhamdulillah, anakku… 107.BAYI : Kami hanya mengakui bahwa Allah Tuhan kami, tidak ada yang lain yang akan kami sembah selain Allah. Kebenaran akan selalu menang. meskipun kami kalah di duniamu, tetapi kami akan memenangkan kebenaran ini di dunia Allah, di akhirat. Ya Allah kami mohon restu-Mu, karuniailah rahmat dan hidayah-Mu, amin. 108.KEL.MASYITOH : Amin, Ya robbal ‘alamin, semoga Allah merestui. 109.FIRAUN : Bakar mereka sekarang juga ! SEMENTARA ORANG-ORANG TERTEGUN MENYAKSIKAN KEBENARAN, PARA PENGAWAL FIRAUN MEMASUKKAN MASYITOH DAN KELUARGNYA DI ATAS TUNGGU RAKSASA YANG APINYA MENYALA-NYALA. MASYITOH DAN KELUARGA MENGHADAPI KEMATIAN ITU DENGAN SENYUM. (LAGU ORANG ORANG) Ya Allah, ya Tuhan segala makhluk Api itu telah berkobar menyala Siap menerkam yang mendekatnya Siap melahap siapa saja Namun karna keagunganMu Ibu Masyitoh tersenyum bangga Namun karna ridhoMu Keluarga masyito tabah menghadapi cobaan in Ya Allah, Ya Tuhan yang maha di raja Sejukkanlah hati masyitoh Yang terbakar kobar kemarahan firaun Ya Allah yang maha sejuk, sejukkanlah segala ummat… FIRAUN TERDUDUK DIAM. 110.PUTRI FIRAUN : Ibu masyitoh !! (Lagu Putri Firaun) Ibu Masyitoh yang suci kau hadapi kematian dengan senyum kemenangan kau hadapi siksaan firaun dengan kebanggaan karena memang kebenaran yang kau yakini pilihan jalan yang kau lalui adalah jalan Ilahi jalannya yang suci kau tebar wangi surga sampai kini karna memang itulah wanginya hati dan jihadmu wanginya jiwa, karena keluhuranmu ibu masyitoh, selamat jalan surga telah menantimu Selesai. Wasslamu’alaikum wr. wb. Puthut Buchori [mementaskan naskah drama ini harus ada pemberitahuan kepada penulis] --- 04.20” * 28 mei 2003--- Tentang Puthut Buchori Nama Lengkap Puthut Buchori Ali Marsono, Kelahiran 6 September 1971. Alumni Jurusan teater ISI Yogyakarta, Selain Menjadi Direktur Artistik Bandungbondowoso ready on stage, Juga direktur Artistik di Teater MASA Jokjakarta, Perfomer Artist Post Punk Perfomance, dan bekerja secara freelance pada beberapa kelompok kesenian. Saat ini aktif menjadi konseptor dan pemimpin redaksi Underground Buletin Sastra ASK [Ajar Sastra Kulonprogo]. Berteater sejak kelas satu SMP di teater JIWA Yogyakarta pimpinan Agung Waskito ER. Telah Berproses teater lebih dari 100 repertoar, baik sebagai sutradara, pemain, tata artistik maupun tata lampu. Pernah membina kelompok teater, antara lain : Teater MAN Yogyakarta 1, Teater Puspanegara SMUN 5 Yogyakarta, SMUN 1 Depok Sleman Yogyakarta, Teater Cassello SMUN 1 Wates Kulonprogo Yogyakarta, Teater Thinthing Wates Kulonprogo Yogyakarta, SMU Kolese GONZAGA Jakarta (event tertentu), Kolese LOYOLA Semarang Jateng (event Tertentu). Teater Sangkar UPN Veteran Yogyakarta, Teater RAI ISI Yogyakarta, Teater DOEA KATA ISI Yogyakarta, dan saat ini sedang merintis kelompok teater di Wates Kulonprogo Yogyakarta. Tinggal di Gowongan Kidul Jt3/412 Yogyakarta, HP. 08179417613, e-mail:masa_teater@yahoo.com

Naskah Drama : AYAHKU PULANG

”AYAHKU PULANG”
Penulis Naskah : Usmar Ismail

SINOPSIS CERITA
Drama ini mengisahkan tentang konflik keluarga dimana Raden Salah selaku kepala keluarga pergi meninggalkan tiga orang anak yaitu Gunarto, Maimun dan Mintarsih serta menceraikan Tina istrinya dengan keadaan ekonomi yang susah. Gunarto merasa benci dengan ayahnya yang tidak bertanggung jawab pada keluarga, akan tetapi Tina (Sang Ibu) terus berusaha mengingatkan Gunarto agar tidak membenci Raden Saleh selaku Ayah kandungnya. Tina merupakan seorang Ibu yang luar biasa, tanpa seorang suami dia berhasil membesarkan ketiga anaknya walau dengan keadaan yang sangat sederhana.

Setelah 20 tahun kemudian, Raden Saleh (ayah) kembali pulang ke rumah dalam keadaan tua renta serta miskin, akan tetapi Gunarto masih tetap saja menyimpan rasa kebencian pada ayahnya. Gunarto merasa bahwa selama ini dia tidak memiliki seorang ayah.

Kebencian Gunarto terhadap Raden Saleh (ayah) berbanding terbalik dengan perasaan Ibu, serta adik-adiknya. Mereka masih mau menerima ayahnya untuk kembali. Akan tetapi apa daya, kebencian Gunarto menimbulkan perasaan yang berkecamuk bagi Raden Saleh (ayah). Akhirnya Raden Saleh (ayah) memilih untuk pergi meninggalkan rumah dan memutuskan untuk tidak mengusik lagi kehidupan keluarga kecilnya yang pernah dia tinggalkan.

Penokohan:
1. RADEN SALEH: Ayah.
2. T I N A: Ibu atau Isteri Raden Saleh.
3. GUNARTO: Anak laki-laki tertua Raden Saleh dan Tina.
4. MAIMUN: Adik laki-laki Gunarto atau anak kedua Raden Saleh dan Tina.
5. MINTARSIH: Adik perempuan Gunarto dan Maimun atau anak bungsu Raden Saleh dan Tina.

Tata Panggung:
Panggung menggambarkan sebuah ruangan dalam dari sebuah rumah yang sangat sederhana dengan sebuah jendela agak tua. Di kiri kanan ruangan terdapat pintu. Di sebelah kiri ruangan terdapat satu set kursi dan meja yang agak tua, disebelah kanan terdapat sebuah meja makan kecil dengan empat buah kursinya, tampak cangkir teh, kue-kue dan peralatan lainnya diatas meja. Suara adzan di latar belakang menunjukkan saat berbuka puasa.

Sebelum layar diangkat sebaiknya terlebih dahulu sudah terdengar suara beduk bersahut-sahutan diiringi suara takbir beberapa kali sebagai tanda kalau esok adalah hari raya idul fitri. Suara bedug dan takbir sebaiknya terus terdengar dari mulai layar diangkat/sandiwara dimulai sampai akhir pertunjukkan ini. Ketika sandiwara dimulai/layar panggung diangkat, tampak ibu sedang duduk dikursi dekat jendela. Ekspresinya kelihatan sedih dan haru mendengar suara beduk dan takbiran yang bersahut-sahutan itu. Kemudian masuk kepanggung gunarto.

1. Gunarto: “Ibu masih berpikir lagi…”
2. I b u: “Malam Hari Raya Narto. Dengarlah suara bedug itu bersahut-sahutan.” “Pada malam hari raya seperti inilah Ayahmu pergi dengan tidak meninggalkan sepatah katapun.”
3. Gunarto: “Ayah…”
4. I b u: “Keesokan harinya Hari Raya, selesai sholat kuampun dosanya…”
5. Gunarto: “Kenapa masih Ibu ingat lagi masa lampau itu? Mengingat orang yang sudah tidak ingat lagi kepada kita?”
6. I b u: (Memandang Gunarto) “Aku merasa bahwa ia masih ingat kepada kita.”
7. Gunarto: (Bergerak ke Meja Makan) “Mintarsih kemana, Bu?”
8. I b u: “Mintarsih keluar tadi mengantarkan jahitan, Narto.”
9. Gunarto: (Heran) “Mintarsih masih juga mengambil upah jahitan, Bu?” “Bukankah seharusnya ia tidak usah lagi membanting tulang sekarang?”
10. I b u: “Biarlah Narto. Karena kalau ia sudah kawin nanti,
kepandaiannya itu tidak sia-sia nanti.”
11. Gunarto: (Bergerak Mendekati Ibu, Lalu Bicara Dengan Lembut) “Sebenarnya Ibu mau mengatakan kalau penghasilanku tidak cukup untuk membiayai makan kita sekeluarga kan, Bu?” (Diam Sejenak. Pause) “Bagaimana dengan lamaran itu, Bu?”
12. I b u: “Mintarsih nampaknya belum mau bersuami, Narto.. Tapi dari pihak orang tua anak lelaki itu terus mendesak Ibu saja..”
13. Gunarto: “Apa salahnya, Bu? Mereka uangnya banyak!”
14. I b u: “Ah… uang, Narto?”
15. Gunarto: (Sadar Karena Tadi Berbicara Salah) “Maaf Bu… bukan maksud aku mau menjual adik sendiri” (Lalu Bicara Dengan Dirinya Sendiri). “Ah… aku jadi mata duitan… yah mungkin karena hidup yang penuh penderitaan ini…”
16. I b u: (Menerawang) “Ayahmu seorang hartawan yang mempunyai tanah dan kekayaan yang sangat banyak, mewah diwaktu kami menikah dulu. Tetapi kemudian, seperti pokok yang ditiup angin kencang, buahnya gugur karena…” (Suasana Sejenak Hening, Penuh Tekanan Bathin, Suara Ibu Lemah Tertekan) “Uang Narto! Tidak Narto, tidak… aku tidak mau terkena dua kali, aku tidak mau adikmu bersuamikan seorang Hartawan, tidak… cukuplah aku saja sendiri. Biarlah ia hidup sederhana, Mintarsih mestilah bersuamikan orang yang berbudi tinggi, mesti, mesti…”
17. Gunarto: (Coba Menghibur Ibu) “Tapi kalau bisa kedua-duanya Sekaligus Bu? Ada harta ada budi.”
18. I b u:”Dimanalah dicari, Narto? Adik kau Mintarsih hanyalah seorang gadis biasa. Apalagi sekarang ini keadaan kita susah? Kita tidak punya uang dirumah? Sebentar hari lagi uang simpananku yang terakhirpun akan habis pula.”
19. Gunarto: (Diam Berfikir, Kemudian Kesal) “Semua ini adalah karena ulah Ayah! Hingga Mintarsih harus menderita pula! Sejak kecil Mintarsih sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Tapi kita harus mengatasi kesulitan ini, Bu! Harus! Ini kewajibanku sebagai abangnya, aku harus lebih keras lagi berusaha!” (Hening Sejenak Pause. Lalu Bicara Kepada Dirinya Sendiri) Kalau saja aku punya uang sejuta…
20. I b u: “Buat perkawinan Mintarsih, lima ratus ribu rupiah saja sudah cukup,Narto.” (Ibu Coba Tersenyum) “Sesudah Mintarsih nanti, datanglah giliranmu Narto…”
21. Gunarto: (Kaget) “Aku kawin,Bu? Belum bisa aku memikirkan kesenangan untuk diriku sendiri sekarang ini, Bu. Sebelum saudara-saudaraku senang dan Ibu ikut mengecap kebahagiaan atas jerih payahku nanti Bu.”
SUARA BEDUG DAN TAKBIR TERDENGAR LEBIH KERAS SEDIKIT.
22. I b u: “Aku sudah merasa bahagia kalau kau bahagia, Narto. Karena nasibku bersuami tidak baik benar.” (Kembali Fikirannya Menerawang) “Dan kata orang bahagia itu akan turun kepada anaknya.” (Pause Lalu Terdengar Suara Bedug Takbir Lebih Keras Lagi. Ibu Mulai Bicara Lagi) “Malam hari raya sewaktu ia pergi itu, tak tahu aku apa yang mesti aku kerjakan? Tetapi…” (KEMBALI SEDIH DAN HARU)
23. Gunarto: (Tampak Kesal Lalu Mengalihkan Pembicaraan) “Maimun lambat benar pulang hari ini, Bu?”
24. I b u: “Barangkali banyak yang harus dikerjakannya? Karena katanya mungkin bulan depan dia naik gaji.”
25. Gunarto: “Betul bu itu? Maimun memang pintar, otaknya encer. Tapi karena kita tak punya uang kita tak bisa membiayai sekolahnya lebih lanjut lagi. Tapi kalau ia mau bekerja keras, tentu ia akan menjadi orang yang berharga di masyarakat!”
26. I b u : (Agak Mengoda) “Narto… siapa gadis yang sering ku lihat bersepeda bersamamu?”
27. Gunarto: (Kaget. Gugup) “Ah…dia itu cuma teman sekerja, Bu.”
28. I b u: “Tapi Ibu rasa pantas sekali dia buat kau, Narto. Meskipun Ibu lihat dia bukanlah orang yang rendah seperti kita derajatnya. Tapi kalau kau suka…”
29. Gunarto(Memotong Bicara Ibu) “Ah… buat apa memikirkan kawin sekarang, Bu? Mungkin kalau sepuluh tahun lagi nanti kalau sudah beres.”
30. I b u: “Tapi kalau Mintarsih nanti sudah kawin, kau mesti juga Narto? Kau kan lebih tua.” (Diam Sebentar Lalu Terkenang) “Waktu Ayahmu pergi pada malam hari raya itu, ku peluk kalian anak-anakku semuanya, hilang akalku…”
31. Gunarto: “Sudahlah Bu. Buat apa mengulang kaji lama?” MASUK MAIMUN DIA TAMPAK KELIHATAN SENANG.
32. Maimun: (Setelah Meletakkan Tas Kerjanya Lalu Bicara) ”Lama menunggu, Bu? Bang?”
33. Gunarto: “Ah tidak…”
34. I b u: “Agak lambat hari ini, Mun? Dimana kau berbuka puasa tadi?”
35. Maimun: “Kerja lembur, Bu. Tadi aku berbuka puasa bersama teman dikantor. Tapi biarlah, buat perkawinan Mintarsih nanti. Eh, mana dia Bu?”
36. I b u: “Mengantarkan jahitan…”
37. Maimun: (Menghampiri Gunarto Lalu Duduk Disebelahnya) “Bang, ada Kabar aneh, nih! Tadi pagi aku berjumpa dengan seorang tua yang serupa benar dengan Ayah?”
38. Gunarto: (Tampak Tak Terlalu Mendengarkan) “Oh, begitu?”
39. Maimun: “Waktu Pak Tirto berbelanja disentral, tiba-tiba ia berhadapan dengan seorang tua kira-kira berumur enam puluh tahun. Ia kaget juga?! Karena orang tua itu seperti yang pernah dikenalnya? Katanya orang tua itu serupa benar dengan Raden Saleh. Tapi kemudian orang itu menyingkirkan diri lalu menghilang dikerumunan orang banyak!”
40. Gunarto: “Ah, tidak mungkin dia ada disini…”
41. I b u: (Setelah Diam Sebentar) “Aku kira juga dia sudah meninggal dunia atau keluar negeri. Sudah dua puluh tahun semenjak dia pergi pada malam hari raya seperti ini.”
42. Maimun: “Ada orang mengatakan dia ada Singapur, Bu?”
43. I b u: “Tapi itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu kata orang dia mempunyai toko yang sangat besar disana. Dan kata orang juga yang pernah melihat, hidupnya sangat mewah.”
44. Gunarto: (Kesal) “Ya! Tapi anaknya makan lumpur!”
45. I b u: (Seperti Tidak Mendengar Gunarto) “Tapi kemudian tak ada lagi sama sekali kabar apapun tentang Ayahmu. Apalagi sesudah perang sekarang ini, dimana kita dapat bertanya?”
46. Maimun: “Bagaimana rupa Ayah yang sebenarnya, Bu?”
47. I b u: “Waktu ia masih muda, ia tak suka belajar. Tidak seperti kau. Ia lebih suka berfoya-foya. Ayahmu pada masa itu sangat disegani orang. Ia suka meminjamkan uang kesana kemari. Dan itulah…”
48. Gunarto: (Kesal Lalu Mengalihkan Pembicaraan) “Selama hari raya ini berapa hari kau libur, Mun?”
49. Maimun: “Dua hari, Bang.”
50. I b u: “Oh ya! Hampir lupa masih ada makanan yang belum Ibu Taruh dimeja. IBU LALU MASUK KEDALAM
51. Gunarto: (Setelah Diam Sebentar) “Pak Tirto bertemu dengan orang tua Itu kapan, Mun?”
52. Maimun: “Kemarin sore, Bang. Kira-kira jam setengah tujuh.”
53. Gunarto: “Bagaimana pakaiannya?”
54. Maimun: “Tak begitu bagus lagi katanya. Pakaiannya sudah compang camping dan kopiahnya sudah hampir putih.”
55. Gunarto: (Acuh Saja) “Oh begitu?”
56. Maimun: “Kau masih ingat rupa Ayah, Bang?”
57. Gunarto: (Cepat) “Tidak ingat lagi aku.”
58. Maimun: “Semestinya abang ingat, karena umur abang waktu itu sudah delapan tahun. Sedangkan aku saja masih ingat, walaupun samar-samar.”
59. Gunarto: (Agak Kesal) “Tidak ingat lagi aku. Sudah lama aku paksa Diriku untuk melupakannya.”
60. Maimun: (Terus Bicara) “Pak Tirto banyak cari tanya tentang Ayah.” IBU KELUAR KEMBALI MEMBAWA MAKANAN LALU BERGABUNG LAGI DENGAN MEREKA.
61. I b u: “Ya, kata orang Ayahmu seorang yang baik hati.” (MENERAWANG) “Jika ia berada disini sekarang, dirumah ini, besok hari raya, tentu ia bisa bersenang-senang dengan anak-anaknya…”
62. Gunarto: (Mengalihkan Pembicaraan) “Eh, Mintarsih seharusnya sudah pulang sekarang… jam berapa sekarang ini?”
63.Maimun: “Bang Narto. Ada kabar aneh lagi nih! Tadi pagi aku Berkenalan dengan orang India. Dia mengajarkan aku bahasa Urdu, dan aku memberikan pelajaran bahasa Indonesia kepada dia!
64. Gunarto: “Baguslah itu. Kau memang harus mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya. Supaya nanti dapat dibanggakan kalau kau bisa jadi orang yang sangat berguna bagi masyarakat! Jangan seperti aku ini, hanya lulusan sekolah rendah. Aku tidak pernah merasakan atau bisa lebih tinggi lagi, karena aku tidak punya Ayah. Tidak ada orang yang mau membantu aku. Tapi kau Maimun, yang sekolah cukup tinggi, bekerjalah sekuat tenagamu! Aku percaya kau pasti bisa memenuhi tuntutan zaman sekarang ini!” MASUK MINTARSIH SEORANG ANAK GADIS YANG TAMPAK RIANG. IA MEMBAWA SESUATU YANG TAMPAKNYA UNTUK KEPERLUAN HARI RAYA BESOK.

65.  Mintarsih: “Ah…. sudah berbuka puasa semuanya?”

66.  I b u: “Tadi kami menunggu kau, tapi lama benar?” (Mintarsih Bergerak Mendekati Jendela Lalu Melongokkan Kepalanya Melihat Keluar) “Makanlah… Apa yang kau lihat diluar?”Mintarsih: “Waktu saya lewat disitu tadi…” (Menoleh Melihat GunartoYang Tampak Acuh Saja) “Bang Narto… dengarlah dulu…”

67.  Gunarto: (Tenang) “Ya, aku dengar.”

68. Mintarsih: “Ada orang tua diujung jalan ini. Dari jembatan sana melihat lihat kearah rumah kita. Nampaknya seperti seorang pengemis.” (Semua Diam)  “Yah… kenapa semua jadi diam?”  GUNARTO TERTUNDUK MEMBISU

69. Maimun: (Dengan Cepat)  “Orang tua? Bagaimana rupanya?”

70. Mintarsih: “Hari agak gelap. Jadi tidak begitu jelas kelihatannya… tapi orangnya…”

TINGGI ATAU PENDEK TERGANTUNG PEMERAN, SUARA BEDUG AGAK KERAS TERDENGAR.

71. Maimun: (Bangkit Dari Duduknya Lalu Melihat Ke Jendela) “Coba ku lihat!”

KEMUDIAN MAIMUN KELUAR  TAK LAMA MASUK KEMBALI, LALU MELONGOKKAN KEPALANYA KE JENDELA LAGI

72Gunarto: (Menoleh Sedikit Kepada Maimun) “ Siapa Mun?”

73.  Maimun: “Tak ada orang kelihatannya?!” (Duduk Kembali)

74. I b u: (Tampak Sedih)  “Malam hari raya seperti ini ia berlalu dulu itu…” (Terkenang) Mungkin …”

75. Gunarto: (Agak Kesal) “Ah Bu, lupakan sajalah apa yang sudah berlalu itu.”

SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN TERDENGAR AGAK JELAS KETIKA SUASANA HENING, SAMBIL MENUNGGU DIALOG.

76.  I b u: “Waktu kami masih sama-sama muda, kami sangat berkasih kasihan. Sejelek-jelek Ayahmu, banyak juga kenangan-kenangan di masa itu yang tak dapat Ibu lupakan. Nak, mungkin ia kembali juga?”

SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN MAKIN SAYUP-SAYUP LALU TERDENGAR SUARA ORANG MEMBERI SALAM DARI PINTU LUAR.

77.  R. Saleh: “Assalamualaikum, assalamualaikum… apa disini rumahnya Nyonya Saleh?”

78.  I b u: “Astagfirullah! Seperti suara Ayahmu, nak? Ayahmu pulang, nak! “

IBU BERGERAK MENDEKATI PINTU RUMAH LALU MEMBUKA PINTU LEBIH LEBAR. DAN NAMPAK RADEN SALEH BERDIRI DIHADAPANNYA. SUASANA JADI HENING TIBA-TIBA. HANYA TERDENGAR SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN YANG SAYUP-SAYUP NAMUN JELAS TERDENGAR.

79. R. Saleh: (Setelah Lama Berpandangan) “Tina? Engkau Tina?”

80. I b u: (Agak Gugup) “Saleh? Engkau Saleh? Engkau banyak berubah, Saleh.”

81. R. Saleh: (Tersenyum Malu)  “Ya aku berubah, Tina. Dua puluh tahun perceraian merubah wajahku.” (Kemudian Memandangi Anak-Anaknya Satu Persatu) “Dan ini tentunya anak-anak kita semua?”

82. I b u: “Ya, memang ini adalah anak-anakmu semua. Sudah lebih besar dari Ayahnya. Mari duduk, dan pandangilah mereka.

83. R. Saleh: (Ragu) “Apa? Aku boleh duduk, Tina?” MINTARSIH MENARIK KURSI UNTUK MEMPERSILAHKAN RADEN SALEH DUDUK.

84.  I b u: “Tentu saja boleh. Mari…” (Menuntun raden saleh sampai ke kursi) Ayahmu pulang, Nak.

85. Maimun: (Gembira Lalu Berlutut Dihadapan Raden Saleh) ”Ayah, aku Maimun.”

86. R. Saleh: “Maimun? Engkau sudah besar sekarang, Nak. Waktu aku Pergi dulu, engkau masih kecil sekali. Kakimu masih lemah, belum dapat berdiri.” (Diam sebentar lalu melihat mintarsih) “Dan Nona ini, siapa?”

88. Mintarsih: “Saya Mintarsih, Ayah.” (Lalu Mencium Tangan Ayahnya)

89. R. Saleh: “Ya, ya… Mintarsih. Aku dengar dari jauh bahwa aku mendapat seorang anak lagi. Seorang putri”. (Memandang Wajah Mintarsih) “Engkau cantik, Mintarsih. Seperti Ibumu dimasa muda.” (Ibu Tersipu Malu) “Aku senang sekali. Tak tahu apa yang harus ku lakukan?”

90. I b u: “Aku sendiri tidak tahu dimana aku harus memulai berbicara? Anak-anak semuanya sudah besar seperti ini. Aku kira inilah bahagia yang paling besar.”

91. R. Saleh: (Tersenyum Pahit) “Ya, rupanya anak-anak dapat juga besar walaupun tidak dengan Ayahnya.”

92. I b u: “Mereka semua sudah jadi orang pandai sekarang. Gunarto bekerja diperusahaan tenun. Dan Maimun tak pernah tinggal kelas selama bersekolah. Tiap kali keluar sebagai yang pertama dalam ujian. Sekarang mereka sudah mempunyai penghasilan masing-masing. Dan Mintarsih dia ini membantu aku menjahit.”

93. Mintarsih: (Malu) “Ah, Ibu.”

94. R. Saleh: (Sambil Batuk-Batuk) “Sepuluh tahun aku menjadi seorang saudagar besar disingapur. Aku menjadi kepala perusahaan dengan pegawai berpuluh-puluh orang. Tapi malang bagiku, toko itu habis terbakar. Lalu seolah-olah seperti masih belum puas menyeret aku kelembah kehancuran, saham-saham yang ku beli merosot semua nilainya sehabis perang ini. Sesudah itu semua segala yang kukerjakan tak ada lagi yang sempurna. Sementara aku sudah mulai tua. Lalu tempat tinggalku, keluargaku, anak isteriku tergambar kembali didepan mata dan jiwaku. Kalian seperti mengharapkan kasihku.” (Batuk-batuk. Lalu memandang Gunarto) “Maukah engkau memberikan air segelas buat ku Gunarto? Hanya engkau yang tidak…”

95. I b u: (Gelisah Serba Salah) “Narto, Ayahmu yang berbicara itu.” “Mestinya engkau gembira, nak. Sudah semestinya Ayah berjumpa kembali dengan anak-anaknya yang sudah sekian lama tidak bertemu.”

96. R. Saleh: “Kalau Narto tak mau, engkaulah Maimun. Maukah kau memberikan Ayah air segelas?”

97. Maimun: “Baik, Ayah.” MAIMUN BERGERAK HENDAK MENGAMBILKAN AIR MINUM, TAPI NIATNYA TERHENTI OLEH TEGURAN KERAS GUNARTO.

98. Gunarto: “Maimun! Kapan kau mempunyai seorang Ayah!”

99. I b u: “Gunarto!” (Sedih, Gelisah Dan Mulai Menangis)

100. Gunarto: (Bicara Perlahan Tapi Pahit) “Kami tidak mempunyai Ayah, Bu. Kapan kami mempunyai seorang Ayah?”

101. I b u: (Agak Keras Tapi Tertahan) “Gunarto! Apa katamu itu!”

102. Gunarto: “Kami tidak mempunyai seorang Ayah kataku. Kalau kami mempunyai Ayah, lalu apa perlunya kami membanting tulang selama ini? Jadi budak orang! Waktu aku berumur delapan tahun, aku dan Ibu hampir saja terjun kedalam laut, untung Ibu cepat sadar. Dan jika kami mempunyai Ayah, lalu apa perlunya aku menjadi anak suruhan waktu aku berumur sepuluh tahun? Kami tidak mempunyai seorang Ayah. Kami besar dalam keadaan sengsara. Rasa gembira didalam hati sedikitpun tidak ada. Dan kau Maimun,. Lupakah engkau waktu menangis disekolah rendah dulu? Karena kau tidak bisa membeli kelereng seperti kawan-kawanmu yang lain. Dan kau pergi kesekolah dengan pakaian yang sudah robek dan tambalan sana-sini? Itu semua terjadi karena kita tidak mempunyai seorang Ayah! Kalau kita punya seorang Ayah, lalu kenapa hidup kita melarat selama ini!”

IBU DAN MINTARSIH MULAI MENANGIS DAN MAIMUN MERASA SEDIH.

103. Maimun: “Tapi bang, Narto. Ibu saja sudah memaafkannya. Kenapa kita tidak?”

104. Gunarto: (Sikapnya Dingin, Namun Keras) “Ibu seorang perempuan. Waktu aku kecil dulu, aku pernah menangis dipangkuan Ibu karena lapar, dingin dan penyakitan, dan Ibu selalu bilang “Ini semua adalah kesalahan Ayahmu, Ayahmu yang harus disalahkan.” Lalu kemudian aku jadi budak suruhan orang! Dan Ibu jadi babu mencuci pakaian kotor orang lain! Tapi aku berusaha bekerja sekuat tenagaku! Aku buktikan kalau aku dapat memberi makan keluargaku! Aku berteriak kepada dunia, aku tidak butuh pertolongan orang lain! Yah.. orang yang meninggalkan anak dan isterinya dalam keadaan sengsara. Tapi aku sanggup menjadi orang yang berharga, meskipun aku tidak mengenal kasih sayang seorarng ayah! Waktu aku berumur delapan belas tahun, tak lain yang selalu terbayang dan terlihat diruang mataku hanya gambaran Ayahku yang telah sesat! Ia melarikan diri dengan seorang perempuan asing yang lalu menyeretnya kedalam lembah kedurjanaan! Lupa ia kepada anak dan isterinya! Juga lupa ia kepada kewajibannya karena nafsunya telah membawanya kepintu neraka! Hutangnya yang ditinggalkan kepada kita bertimbun-timbun! Sampai-sampai buku tabunganku yang disimpan oleh Ibu ikut hilang juga bersama Ayah yang minggat itu! Yah, masa kecil kita sungguh-sungguh sangat tersiksa. Maka jika memang kita mempunyai Ayah, maka Ayah itulah musuhku yang sebesar-besarnya!”

105. I b u: “Gunarto!” (Mintarsih Dan Ibu Menangis)

106. Maimun: “Bang!”

107. Mintarsih: “Bang!” KALAU MUNGKIN DIALOG MEREKA BERTIGA TADI DIUCAPKAN BERBARENGAN

108. Maimun: (Dengan Suara Agak Sedih) “Tapi, Bang. Lihat Ayah sudah Seperti ini sekarang. Ia sudah tua bang Narto.”

109. Gunarto: “Maimun, sering benar kau ucapkan kalimat “Ayah” kepada orang yang tidak berarti ini? Cuma karena ada seorang tua yang masuk kerumah ini dan ia mengatakan kalau ia Ayah kita, lalu kau sebut pula ia Ayah kita? Padahal dia tidak kita kenal. Sama sekali tidak Maimun. Coba kau perhatikan apakah kau benar-benar bisa merasakan kalau kau sedang berhadapan dengan Ayah mu?”

110. Maimun: “Bang Narto, kita adalah darah dagingnya. Bagaimanapun buruknya kelakuan dia kita tetap anaknya yang harus merawatnya.”

111. Gunarto: “Jadi maksudmu ini adalah kewajiban kita? Sesudah melepaskan hawa nafsunya dimana-mana, lalu sekarang ia kembali lagi kesini karena sudah tua dan kita harus memeliharanya? Huh, enak betul!”

112. I b u: (Bingung, Serba-Salah)  “Gunarto, sampai hati benar kau Berkata begitu terhadap Ayahmu. Ayah kandungmu.

113. Gunarto: (Cepat)  “Ayah kandung? Memang Gunarto yang dulu pernah punya Ayah, tapi dia sudah meninggal dunia dua puluh tahun yang lalu. Dan Gunarto yang sekarang adalah Gunarto yang dibentuk oleh Gunarto sendiri! aku tidak pernah berhutang budi kepada siapapun diatas dunia ini. Aku merdeka, semerdeka merdekanya, Bu!” SUARA BEDUG DAN TAKBIR BERSAHUT-SAHUTAN DIIRINGI SUARA TANGIS IBU DAN MINTARSIH.

114. R. Saleh: (Diantara Batuknya) “Aku memang berdosa dulu itu. Aku mengaku. Dan itulah sebabnya aku kembali pada hari ini. Pada hari tuaku untuk memperbaiki kesalahan dan dosaku. Tapi ternyata sekarang…. yah, benar katamu Narto. Aku seorang tua dan aku tidak bermaksud untuk mendorong-dorongkan diri agar diterima dimana tempat yang aku tidak dikehendaki.” (Berfikir,sementara maimun tertunduk diam dan mintarsih menangis dipelukan ibunya) “Baiklah aku akan pergi. Tapi tahukah kau Narto, bagaimana sedih rasa hatiku. Aku yang pernah dihormati, orang kaya yang memiliki uang berjuta-juta banyaknya, sekarang diusir sebagai pengemis oleh seorang anak kandungnya sendiri… tapi biarlah sedalam apapun aku terjerumus kedalam kesengsaraan, aku tidak akan mengganggu kalian lagi.” (Berdiri Hendak Pergi, Tetap Batuk-Batuk)

115. Maimun: (Menahan) “Tunggu dulu, Ayah! Jika Bang Narto tidak mau menerima Ayah, akulah yang menerima Ayah. Aku tidak perduli apa yang terjadi!”

116. Gunarto: “Maimun! Apa pernah kau menerima pertolongan dari orang tua seperti ini? Aku pernah menerima tamparan dan tendangan juga pukulan dari dia dulu! Tapi sebiji djarahpun, tak pernah aku menerima apa-apa dari dia!”

117. Maimun: “Jangan begitu keras, Bang Narto.”

118. Gunarto: (Marah, Dengan Cepat) “Jangan kau membela dia! Ingat, siapa yang membesarkan kau! Kau lupa! Akulah yang membiayaimu selama ini dari penghasilanku sebagai kuli dan kacung suruhan! Ayahmu yang sebenar-benarnya adalah aku!”

119. Mintarsih: “Engkau menyakiti hati Ibu, Bang.” (Sambil Tersedu-Sedu)

120. Gunarto: “Kau ikut pula membela-bela dia! Sedangkan untuk kau, aku juga yang bertindak menjadi Ayahmu selama ini! Baiklah, peliharalah orang itu jika memang kalian cinta kepadanya! Mungkin kau tidak merasakan dulu pahit getirnya hidup karena kita tidak punya seorang Ayah. Tapi sudahlah, demi kebahagiaan saudara-saudaraku, jangan sampai menderita seperti aku ini.” IBU DAN MINTARSIH TERUS MENANGIS, SEMENTARA MAIMUN DIA KAKU, SUARA BEDUG DAN TAKBIR TERUS BERSAHUT-SAHUTAN. LALU TERDENGAR SUARA GEMURUH PETIR DAN HUJANPUN TURUN.

121. R. Saleh: “Aku mengerti… bagiku tidak ada jalan untuk kembali. Jika Aku kembali aku hanya mengganggu kedamaian dan kebahagiaan anakku saja. Biarlah aku pergi. Inilah jalan yang terbaik. Tidak ada jalan untuk kembali. RADEN SALEH BERGERAK PERLAHAN SAMBIL BATUK-BATUK, SEMENTARA MAIMUN MENGIKUTI DARI BELAKANG.

122. Maimun: “Ayah, apa Ayah punya uang? Ayah sudah makan?”

123. Mintarsih: (Dengan Air Mata Tangisan) “Kemana Ayah akan pergi sekarang?”

124. R. Saleh: “Tepi jalan atau dalam sungai. Aku cuma seorang pengemis sekarang. Seharusnya memang aku malu untuk masuk kedalam rumah ini yang kutinggalkan dulu. Aku sudah tua lemah dan sadar, langkahku terayun kembali. Yah, sudah tiga hari aku berdiri didepan sana, tapi aku malu tak sanggup sebenarnya untuk masuk kesini. Aku sudah tua, dan…” RADEN SALEH MEMANDANGI ANAK-ANAKNYA SATU PERSATU LALU KELUAR DENGAN PERLAHAN SAMBIL BATUK-BATUK. BERJALAN LEMAH DIIRINGI SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN YANG SAYUP-SAYUP MASIH TERDENGAR, SEMENTARA HUJAN MULAI TURUN DENGAN DERAS.

125. I b u: (Sambil Menangis) “Malam hari raya dia pergi dan datang Untuk pergi kembali. Seperti gelombang yang dimainkan oleh angin topan. Demikianlah nasib Ibu, Nak.”

126. Mintarsih: (Sambil Menangis Menghampiri Gunarto, Lalu Bergerak Kedekat Jendela) “Bang…. bagaimanakah Abang? Tidak dapatkah Abang memaafkan Ayah? Besok hari raya, sudah semestinya kita saling memaafkan. Abang tidak kasihan? Kemana dia akan pergi setua itu?” HUJAN SEMAKIN DERAS

127. Maimun: (Kesal) “Tidak ada rasa belas kasihan. Tidak ada rasa tanggung jawab terhadap adik-adiknya yang tidak berAyah lagi.”

128. Mintarsih: “Dalam hujan lebat seperti ini, Abang suruh dia pergi. Dia Ayah kita Bang. Ayah kita sendiri!

129. Gunarto: (Memandang Adiknya) “Janganlah kalian lihat aku sebagai terdakwa. Mengapa kalian menyalahkan aku saja? Aku sudah hilangkan semua rasa itu! Sekarang kalian harus pilih, dia atau aku!”

130. Maimun: (Tiba-Tiba Bangkit Marahnya) “Tidak! Aku akan panggil kembali Ayahku pulang! Aku tidak perduli apa yang Abang mau lakukan? Kalau perlu bunuh saja aku kalau Abang mau! Aku akan panggil Ayahku! Ayahku pulang! Ayahku mesti pulang!” MAIMUN LARI KELUAR RUMAH, SEMENTARA HUJAN MAKIN LEBAT DIIRINGI SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN SAYUP-SAYUP TERDENGAR.

131. Gunarto: “Maimun kembali!” GUNARTO CEPAT HENDAK MENYUSUL MAIMUN TAPI TIDAK JADI LALU PERLAHAN-LAHAN DUDUK KEMBALI. IBU DAN MINTARSIH MENANGIS. SUASANA HENING SEJENAK HANYA TERDENGAR SUARA BEDUG DAN TAKBIRAN SERTA GEMURUH HUJAN. TAK BERAPA LAMA TAMPAK MAIMUN MASUK KEMBALI. NAMUN IA HANYA MEMBAWA PAKAIAN  DAN KOPIAH AYAHNYA SAJA. MAIMUN KELIHATAN MENANGIS.

132. Mintarsih: “Mana Ayah, Bang?”

133. I bu: “Mana Ayahmu?”

134. Maimun: “Tidak aku lihat. Hanya kopiah dan bajunya saja yang kudapati…”

135. Gunarto: “Maimun, dimana kau dapatkan baju dan kopiah itu?”

136. Maimun: “Dibawah lampu dekat jembatan…”

137. Gunarto: “Lalu Ayah? Bagaimana dengan Ayah? Dimana Ayah?”

138 Maimun: “Aku tidak tahu…”

139. Gunarto:(Kaget dan Sadar) “Jadi, jadi Ayah meloncat kedalam sungai!”

140. I b u: (Menjerit) “Gunarto….!”

141. Gunarto: (Berbicara Sendiri Sambil Memeggang Pakaian Dan Kopiah Ayahnya. Tampak Menyesal) “Dia tak tahan menerima penghinaan dariku. Dia yang biasa dihormati orang, dan dia yang angkuh, yah, angkuh seperti diriku juga… Ayahku. Aku telah membunuh Ayahku. Ayahku sendiri. Ayahku pulang, Ayahku pulang…” GUNARTO BERTERIAK MEMANGGIL-MANGGIL AYAHNYA LALU LARI KELUAR RUMAH DAN TERUS BERTERIAK-TERIAK SEPERTI ORANG GILA. IBU MINTARSIH DAN MAIMUN BERBARENGAN BERTERIAK MEMANGGIL GUNARTO “GUNARTO….!!” SUARA BEDUG BERSAHUT-SAHUTAN DIIRINGI TAKBIR. SEMENTARA HUJAN MASIH SAJA TURUN DENGAN DERASNYA. LAMPU PANGGUNG PERLAHAN-LAHAN MATI LALU LAYAR TURUN.

S  E  L  E  S  A  I

Minggu, 11 September 2011

Lakon Pinangan Teater Generasi

Dari tiga agenda pentas Teater GENERASI tahun ini, lakon pinangan karya Anton Chekov, akan dipentaskan pertama kali pada 22 Oktober mendatang di Gedung Utama TBSU. Suyadi San pimpinan Teater GENERASI bertindak sebagai sutradara. Naskah ini menceritakan tentang proses pernikahan yang penuh dramatisasi.

Pada kesempatan ini, Suyadi berencana menggarap lakon yang tak melupakan unsur Medan. “Ada sedikit adaptasi menjadi lebih Medan,” katanya. Sedikit sinopsis,kisah akan dimulai di hamparan tanah Medan. Ratna binti Salimun dan Togar Margolang Hendak saling mencari pasangan Namun selalu banyak penghalang.

“Inilah sepenggal kisah tentang anak manusia Yang hendak menghabiskan masa berumah tangga Meski diselimuti malapetaka Namun tetap aman sentosa,” terang Suyadi. Bertindak sebagai aktor pada lakon tersebut antara lain, S. Yadhie, Ahmad Haikal dan Khairun Thalib. (ful)


Sumber _ Harian Sumut Pos

Teater Generasi Kembali Manggung

Kamis, 5 Mei 2011 21:42 WIB
Laporan Wartawan Tribun Medan, Irfan

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN
- Komunitas Rumah Kata yang bekerjasama dengan Teater GENERASI, akan melaksanakan pagelaran yang berjudul Opera Raja dan Ratu Air di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, Medan, Jumat (13/5/2011) nanti .

Hal itu diutarakan Idris Siregar, yang menjadi penulis naskah dari pagelaran teaterikan tersebut, saat disambangi Tribun di Gedung Taman Budaya Sumatera Utara, Kamis (5/5/2011) sore.

Ia mengatakan, pementasan sendiri, akan didukung oleh 30 orang aktor untuk memerankan karakter dalam pementasan, yang juga akan didukung dengan backgroud musik dan permainan cahaya.

"Kita melibatkan beberapa mahasiswa dari berbagai kampus. Paling banyak yang kita libatkan adalah mahasiswa kampus UNIMED yang total keseluruhan peserta ada 30 orang termasuk pengisi suara dan staf untuk permainan lampu," ujarnya.

Disinggung terkait genre dari pagelaran, Idris mengaku akan mengambil genre komedi. Katanya, genre komedi lebih menantang ketimbang melakukan pementasan lainnya. Katanya, meskipun tampak mudah, justru genre komedi paling sulit, karena seorang aktor diharuskan memancing penonton untuk bisa tertawa.

Idris menambahkan, dalam pertunjukan nanti durasi pementasan sekitar satu jam, dengan melakukan perpaduan suara dan musik, seperti yang selama ini dilakukan oleh acara Opera Van Java.

"Saya suka nonton Opera Van Java. Makanya saya menulis naskah humoris. Tapi jangan salah, humoris lebih sulit dari pada naskah lainnya," ujar Idris yang mengaku pernah berguru dengan tokoh seni kota Medan Rifi Hamdani.

Editor : Alfred Dama
Sumber : Tribun Medan

Teater Generasi Diapresiasi

MEDAN- Penampilan kelompok Teater GENERASI Medan di Taman Budaya Jawa Timur dalam temu teater nasional, diapresiasi penuh oleh kelompok teater lain. Temu teater itu sendiri diikuti 42 kelompok, yang seluruhnya mentas dengan ciri khas masing-masing.

GENERASI membawakan lakon Pinangan karya Anton Chekov yang sudah diadaptasi sendiri oleh pimpinan GENERASI, Suyadi San. Lakon yang dipentaskan lebih bergaya teater bangsawan. Menurut Suyadi, konsep inilah yang rupanya mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat teater yang hadiri even itu.

“Alhamdulillah kita dapat aplause meriah dari hadirin. Masyarakat teater Jawa Timur dan lainnya senang, karena kita usung konsep teater bangsawan. Ini kan ciri khas Sumatera,” kata Suyadi ketika dihubungi Jumat (5/11).

Pinangan sebelumnya sudah dipentaskan dua kali di Taman Budaya Sumatera Utara. Menurut Suyadi, pemanasan sebelum tampil di Taman Budaya Jawa Timur benar-benar maksimal. “Di Medan kemarin pemanasannya. Jadi ketika tampil di Surabaya kita tak canggung lagi. Semua lancar terkendali,” tambahnya.

Kru yang dibawa serta tampil di sana juga tak beda sedikitpun dengan yang tampil di Medan. Maka itu, soliditas penampilan dan kekompakan kelompok sudah teruji benar. Terlebih proses latihan memakan waktu berbulan-bulan.

Pinangan yang diadaptasi Suyadi sendiri bercerita tentang persoalan tanah. Setting yang diambil total bernuansa lokal, yakni soal sengketa tanah di kawasan Simalingkar. Masalah jadi klimaks ketika tokoh saling klaim bahwa mereka pemilik masing-masing tanah yang jadi sengketa. Menariknya, itu terjadi ketika tokoh bernama Togar Margolang (Diperankan Ahmad Haykal) ingin meminang gadis desa bernama Ratna Salimun (Diperankan Khairani Nathalib). Ratna Salimun ini putri dari penggarap tanah bernama Suhandoyo Salimun (Diperankan S Yadhie).

“Tentu saja bahagia karena apa yang kita tawarkan mendapat respon positif. Ke depan kami akan terus berkreasi dengan kearifan lokal yang dikemas lebih menarik,” pungkas Suyadi. (ful)


sumber : Sumut Pos