Rabu, 02 Desember 2009

Seni: Teater di Sumatera Lebih Berkembang

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Perkembangan komunitas teater perempuan di Sumatera lebih cepat dibanding dengan Jawa. Komunitas teater perempuan di Pulau Sumatera juga dinilai lebih berani dalam menyampaikan tema tentang perempuan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Operasional Kala Sumatera Imas Sobariah, Senin (12-1), usai L:kakarya Panggung Perempuan se-Sumatera.

Menurut Imas, komunitas teater Perempuan di Sumatera terbukti lebih berani dalam mengeksplorasi tema perempuan dibanding dengan komunitas teater di Pulau Jawa. Dengan kondisi seperti ini, kata Imas, perkembangan komunitas teater perempuan di Sumatera lebih cepat dibanding dengan Jawa.

Panggung perempuan se-Sumatera diikuti 21 peserta dari 12 lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas teater, di antaranya Teater Generasi (Sumatera Utara), Kominitas Seni Intro (Sumatera Barat), Teater Sakata (Sumatera Barat), Teater Selembayung (Riau), Teater Oranye (Jambi), Teater Andung (Bengkulu), Teater Kurusetra (Lampung), Teater

Imas mengatakan dalam lokakarya tersebut peserta harus menyampaikan draf penulisan lakon dan penyutradaraan untuk mempertajam ide teater yang akan dipentaskan pada April mendatang. Tema teater yang disampaikan peserta, kata Imas, adalah seputar dunia perempuan dan tentang rumah tangga. Teater Satu Lampung mengadakan Lokakarya Panggung Perempuan se-Sumatera di Taman Budaya, 8--12 Januari. Dalam acara ini perwakilan dari beberapa teater di Sumatera mempresentasikan ide penulisan lakon dan penyutradaraan di hadapan para pemateri.

Menurut Imas, para pembicara sangat mengapresiasi ide yang diusung komunitas teater di Sumatera. Melihat ide cerita yang disampaikan peserta, pembicara menilai perkembangan teater perempuan di Sumatera bisa lebih cepat dari teater di Jawa. Komunitas teaterTeater yang nantinya dipentaskan antara lain berjudul Ci Apung, Emak, Sama dengan Nol, Tiga Perempuan, Koki Keluarga, Fatimah, dan Kembang Mayang. n */K-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 13 Januari 2009

Medan Art Festival Digelar

Tabuhan bedug Sekda Medan, Dzulmi Eldin menandai pembukaan Medan Arts Festival di Tiara Convention Hall, kemarin. Saat itu pula gaung perhelatan kesenian yang digelar Dewan Kesenian Medan (DKM) kian menggema.

Sekda yang mewakil Pj Walikota Medan menyampaikan apresiasi positif terhadap kegiatan ini. Menurutnya, perhelatan ini suatu langkah maju dalam pembinaan dan pengembangan seni di Medan.

“Dan saya yakin, pembinaan dan pengembangan seni ini pada akhirnya akan memberi kontribusi bagi pembangunan di Medan, khusus pembangunan mental dan rohani,” ungkapnya.

Eldin mengemukakan, seni berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Selain mengutuhkan identitas, kesenian juga berperan memberi kesadaran berbudaya pada jiwa masyarakat.

“Hal inilah yang mendorong Pemko Medan tak luput memperhatikan pembangunan kebudayaan, salah satunya melalui kegiatan-kegiatan seperti ini,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum DKM Hj Anita Ch Daryatmo melaporkan perhelatan ini melibatkan berbagai seniman dari berbagai cabang seni. Selain pertunjukan, pameran, Medan Art Festival ini juga tidak luput menerbitkan kumpulan puisi yang bertemakan Medan.

“Kita juga berusaha membangkit partisipasi pelajar dalam kegiatan ini. Di antaranya melalui perlombaan kesenian,” lanjutnya.

Dia merincikan, kegiatan ini terdiri dari lomba lukis anak, festival tari Zapin yang menghadirkan pengamat dari Yogjakarta, festival Tari Kreasi Multi Etnis, Apresiasi Sendra Tari, pemutaran film pendek karya anak SMA di Medan, pertunjukan teater tradisional, dan parade teater

“Melalui kesempatan ini, kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Pemko Medan yang telah membantu dan memberi perhatian penuh sehingga perhelatan akbar ini dapat terselenggara,” ucap Anita.

Lomba Baca Puisi
Perhelatan ini juga bertujuan membumikan karya seniman Medan di kota ini. Cara yang ditempuh adalah melalui lomba dan pertunjukan. Koordinator Komite Sastra DKM, Eddy Siswanto mengatakan untuk mencapai tujuan ini pihak mengumpukan 14 puisi penyair Medan dan selanjtnya puisi-puisi itu dijadikan bahan lomba baca puisi tingkat SMA/sederajat se-Medan.

“Lomba ini berlangsung 28 sampai 29 November mendatang di Auditorium RRI Medan,” ujar Eddy.

Dia menjelaskan, calon peserta yang ingin mengikuti lomba itu dapat mendaftar di Wisma Kartini Jalan T Cik Ditiro Medan dan Taman Budaya Sumatera Utara. Setiap pendaftaran tidak akan dikenai biaya, bahkan mendapat satu buku yang kumpulan puisi empat belas penyair Medan.

Koordinator Komite Sastra DKM, Eddy Siswanto menambahkan, pemenang lomba ini selain mendapat piagam penghargaan juga menerima hadiah uang tunai. Juara I masing-masing putra-putri mendapat Rp 750 ribu, Juara II Rp 500 ribu, dan Juara III Rp 300 ribu. Seangkan Juara Harapan I, II, III masing-masing Rp 200 ribu.

Parade Teater
Dalam perhelatan ini, DKM juga mengundang kelompok teater untuk menampilkan karya terbaiknya. “Kita menampilkan karya teater kelompok tersebut di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara sepanjang bulan ini,” ungkap Koordinator Komite Teater DKM, Afrion.

Kelompok yang bakal mengisi ajang Medan Arts Festival ini yakni Teater Imago membawa “Cerita Raja Ulok” (17 November), Teater Blok dengan karya “Episode Jombang” (20 November), Teater Generasi menampilkan “Romeo & Juliet” (25 November), dan Teater

“Kita ajak warga Medan untuk dapat menyaksi pementasan ini. Tidak dikutip bayaran. Gratis,” imbau Afrion.
(dat03/pemkomedan.go.id)

Anak Medan: The Talents! (Asli Buatnya di Medan)

Teks oleh Frans Margo Leo & Carolyn Kandou

Foto oleh M. Amir Imanuddin, Rahadian Roebidin & Istimewa

Siapa bilang Medan bukan gudangnya anak muda yang paten-paten. Inilah segelintir ‘Anak Medan’ yang tidak banyak cincong dan layak dijadikan sebagai gacok.



Jumaida Gustini
1. Anggota teaterGenerasi

2. Pembaca puisi
3. Visualisasi puisi.

“Demi mendalami peran pelacur, aku melakukan observasi terhadap wanita malam dan memperhatikan setiap detail kepribadian seorang pelacur.”



Berawal dari parody, saya kemudian diajak main teater di Medan oleh saudara ketika berkunjung ke Lampung (di Lampung tidak ada teater). Lalu, saya akhirnya bergabung dengan teaterGenerasi’ yang digawangi oleh Suyadi San dan Hasan Al Banna. Saya pun magang selama 3 bulan (baca: tes mental), tetapi kerap dicuekin dan kerjanya hanya nyapu sanggar dan buatkan teh.

Tapi, kesempatan itu datang juga. Tahun 2007, aku main di pementasan RT 0/RW 0 sebagai Ati, seorang janda yang ditinggal sama suaminya di dermaga. Memang, biasanya, aku tuh dapatnya peran yang menantang, yaitu sebagai pelacur dan wanita malang yang ditinggal suami. Demi mendalami peran pelacur, aku melakukan observasi terhadap wanita malam dan memperhatikan setiap detail kepribadian seorang pelacur, mulai dari cara ngomong sampai gaya duduk.

Aku juga pernah jadi laki-laki. Waktu itu aku dituntut menjadi pria dewasa kira-kira berusia 30 tahun di drama Keok Ataw Pepeteng. Jadi, aku mesti bisa bersuara keras dan berat serta meniru gerak-gerik seorang laki-laki. Sampai-sampai, waktu aku disalami oleh penonton, dikiranya aku itu laki-laki, ha-ha-ha… Berarti aku berhasil membawakan peran itu.

Paling berkesannya adalah waktu aku mentas di drama Kembang Mayang di acara Panggung Perempuan Sumatera, Lampung. Itulah kesempatan e 2009mas bagi saya untuk tampil bersama grup teater dari seluruh Sumatera dan tentu disaksikan oleh pencari bakat dari luar. Saya juga belajar penyutradaraan dan penulisan naskah di lokakarya di sana. Oh ya, sedikit tips biar bisa nangis kalau mentas, fokuskan saja mata kita ke lampu sorot, lama-lama kan meleleh juga, ha-ha…

sumber : Aplaus, Edisi 102 tahun 2009

Para Perempuan Sumatra Teriak Penindasan di Panggung Teater


02.06.2009 02:30:42 WIB

Oleh SUMARDONI

SEMBILAN grup teater dari 7 provinsi di Sumatera akan menggelar pertunjukan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Lampung sejak Sabtu (25/04/2009) hingga Rabu (29/04/2009).

Delapan grup yang akan tampil dalam ajang Panggung Perempuan Sumatera kerjasama Teater Satu dengan Hivos (Belanda) tersebut adalah Teater Generasi (Medan), Teater Sakata (Padang Panjang), Teater Intro (Payakumbuh), Teater Orange (Jambi), Teater Selembayung (Riau), Teater Andung (Bengkulu), Teater Baru (Palembang), Teater Kurusetra UKMBS Unila (Lampung), dan tuan rumah Teater Satu (Lampung).

Ajang Panggung Perempuan Sumatera ini merupakan salah satu dari rangkaian program Kala Sumatera yang ditaja Teater Satu untuk pemberdayaan dan pengembangan kualitas artistik seniman-seniman teater di Sumatera. Kepala Bidang Operasional Program Kala Sumatera Imas Sobariah menjelaskan, isu perempuan dalam even ini bukan sekadar diangkat dalam tataran wacana, melainkan pada praktik juga. Dalam hal ini, panitia telah melaksanakan workshop penyutradaraan, artistik, dan penulisan lakon untuk sutradara dan penulis perempuan dari masing-masing kelompok peserta yang telah lolos seleksi. “Kegiatan workshop dan lokakarya sudah kami laksanakan sejak bulan November tahun lalu dengan pemateri para seniman teater dan aktivis perempuan yang telah berpengalaman di Indonesia. Dalam pergelran ini, kami juga mendatangkan para pengamat yang telah cukup berpengalaman. Noviami, kurator pertunjukan Goethe Institute; Lisabona, pengamat dan kritikus film, Ags Aryadipayana, sutradara Teater Tetas Jakarta; Faiza Mardzoeki, penulis lakon dan aktivis perempuan dari Jakarta,” kata Imas Sobariah, di Taman Budaya Lampung, Bandarlampung, Jumat (24/04/2009).

Palembang dan Padang Panjang

Hari pertama pergelaran, Sabtu (25/04/2009) akan menampilkan Teater Baru (Palembang) dan Teater Sakata (Padang Panjang). Teater Baru akan mengusung lakon bertajuk “Sehelai Emak” karya Florencia Marcelina Ramadhona, Sutradara Ayu Irma Prasakti. Lakon ini bercerita soal eksistensi perempuan pada masyarakat miskin yang berada di kampung miskin, tepian Sungai Musi, Palembang, yang dipersonifikasi melalui sosok “Emak”. Ceritanya bagaimana membaca kekerasan terhadap perempuan secara struktural (kemiskinan) dalam kehidupan sehari-hari. Emak seorang perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai tukangs cuci, terkena penyakit TBC, suaminya seorang penarik becak yang pemalas, dan anaknya si Ujang yang terkena penyakit masyarakat kota, Snobisme.

Di kolong rumah panggung (menyewa) Emak mengarungi kehidupan; mengurusi rumah dan melayani dua lelaki. Meskipun harus dikalahkan secara fisik, Emak terus melawan. Itulah akhirnya.

Teater Baru merupakan teater yang diusung anak muda di Palembang. Mereka dapat dikatakan sebagai produk murni dari proyek Panggung Perempuan yang diusung Teater Satu dan HIVOS. Mereka yang sebagian besar mahasiswa Universitas PGRI Palembang ini, sebelumnya tidak pernah bergelut dengan teater. Setelah mengikuti workshop teater yang diselenggarakan panpel Panggung Perempuan Sumatra pada akhir 2008 lalu, mereka memulai kerja pementasan perdana ini.

Selama proses penggarapan “Sehelai Emak” mereka mendapatkan masukan dari sejumlah pekerja seni di Palembang, baik megenai manejemen maupun artistik seperti T.Wijaya, Jaid Saidi, Conie Sema, Dian Maulina, dan Edwin Fast.

“Kami ingin membangun sebuah teater yang tidak hanya bagus dan menarik di atas panggung, tapi juga membangun citra yang baik, terutama perilaku para pekerja teater di tengah masyarakat. Inilah semangat baru yang sederhana dari kami,” kata Ayu Irma Prasakti, sutradara dan juga pimpinan Teater Baru.

Sedangkan Teater Sakata akan menghadirkan lakon “Tiga Perempuan” karya Via Suswati, Sutradara Tya Setiawati. Lakon ini mengisahkan pergulatan hidup seorang wanita padendang (penembang-red) yang seringkali menanggung citra buruk di tengah masyarakat karena profesinya sebagai seniman jalanan. Melalui lakon ini pula, duet Via dan Tia akan menghadirkan benturan nilai antara apa yang tradisional dan yang modern, disamping konflik-konflik batin seputar kehidupan rumah tangga seorang padendang. Dengan memadukan pendekatan tradisional dan modern, bentuk pertunjukan yang akan disajikan Teater Sakata ini sejak awal mengikuti program November tahun lalu diprediski akan sangat menarik. “Teater Sakata merupakan salah satu grup yang cukup berpengalaman. Terutama dalam hal penguasaan terhadap khasanah tradisi minang baik berupa gerak, syair, maupun karakter,” kata Ruth Marini, Koordinator Program Panggung Perempuan.

Dukungan
Selain bekerjasama dengan Hivos, program Kala Sumatera ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Di antaranya, Taman Budaya Provinsi Lampung, Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung, Berbagai Media Massa cetak dan elektronik di Lampung dan Jakarta, Yayasan Seni-Budaya Kelola, dan masyarakat luas. “Ini menunjukkan bahwa masyarakat luas sebenarnya telah cukup apresiatif terhadap program-program seni-budaya non-pop, demikian juga pihak swasta. Tinggal bagaimana kita mampu mengemas dan meyakinkan bahwa even-even seperti ini memang penting, perlu, dan menarik untuk disaksikan masyarakat,” jelas Ahmad Jusmar, Direktur Artistik Teater Satu.

Namun, tidak semua teater yang terlibat mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Misalnya Teater Baru dari Palembang yang tidak mendapatkan bantuan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumsel, Dewan Kesenian Sumsel, maupun Pemerintah Provinsi Sumsel. "Kami dijanjikan dibantu setelah pulang ke Palembang, tapi kami tidak menerima jaminan selembar pun surat. Kalau mereka bilang nggak dapat membantu, ya, kami tidak dapat menuntut hak kami sebagai warga Sumsel itu," kata Ayu Irma Prasakti, pimpinan Teater Baru.

Selain pergelaran, Panitia juga akan melaksanakan diskusi berupa ulasan dan evaluasi oleh para pengamat terhadap setiap grup penampil. “Evaluasi ini sangat penting bagi peningkatan kualitas artistic peserta. Oleh karena itu kami juga member porsi yang cukup besar,” lanjut Jusmar.


sumber : Beritamusi.com

Teater Baru dan Sakata Tampil Perdana

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Teater Baru dan Teater Sakata akan tampil perdana dalam Panggung Perempuan Se-Sumatera yang digelar di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Lampung, Sabtu (25-4).

Teater Baru mengusung lakon Sehelai Emak karya Florencia Marcelina Ramadhona dan sutradara Ayu Irma Prasakti. Lakon ini bercerita soal eksistensi perempuan dalam masyarakat miskin yang berada di kampung miskin di tepian Sungai Musi, Palembang, yang dipersonifikasi melalui sosok Emak.

Sehelai Emak menggambarkan kekerasan terhadap perempuan secara struktural (kemiskinan) dalam kehidupan sehari-hari. Emak sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci, terkena penyakit TBC, suaminya seorang penarik becak yang pemalas, dan anaknya si Ujang terkena penyakit masyarakat kota, snobisme.

Sedangkan Teater Sakata menghadirkan lakon Tiga Perempuan karya Via Suswati dan sutradara Tya Setiawati. Lakon ini mengisahkan pergulatan hidup seorang wanita padendang (penembang, red) yang sering menanggung citra buruk di tengah masyarakat karena profesinya sebagai seniman jalanan. Melalui lakon ini, Teater Sakata menghadirkan benturan nilai antara apa yang tradisional dan yang modern, di samping konflik-konflik batin seputar kehidupan rumah tangga seorang padendang.

Dengan memadukan pendekatan tradisional dan modern, bentuk pertunjukan yang disajikan Teater Sakata ini bisa menarik.

Semangat Baru

Kepala Bidang Operasional Program Kala Sumatera Imas Sobariah mengatakan Teater Baru merupakan teater yang diusung anak muda di Palembang. Mereka produk murni dari proyek Panggung Perempuan yang diusung Teater Satu dan Hivos. Sebagian besar pengurus Teater Baru merupakan mahasiswa Universitas PGRI Palembang yang sebelumnya tidak pernah bergelut dengan teater.

Setelah mengikuti workshop teater, kata Imas, mereka memulai kerja pementasan perdana ini. Selama proses penggarapan Sehelai Emak, mereka mendapatkan masukan dari sejumlah pekerja seni di Palembang, baik mengenai manajemen maupun artistik

"Kami ingin membangun sebuah teater yang tidak hanya bagus dan menarik, tetapi juga membangun citra yang baik, terutama perilaku para pekerja teater di tengah masyarakat. Inilah semangat baru yang sederhana dari kami," kata Ayu Irma Prasakti, sutradara dan juga pimpinan Teater Baru.

Menurut Koordinator Program Panggung Perempuan Ruth Marini, Teater Sakata merupakan salah satu grup yang cukup berpengalaman. Terutama dalam hal penguasaan terhadap khazanah tradisi Minang, baik berupa gerak, syair, maupun karakter.

Selain Teater Baru dan Teater Sakata, Panggung Perempuan Se-Sumatera juga diikuti Teater Generasi (Medan), Teater Intro (Payakumbuh), Teater Orange (Jambi), Teater Selembayung (Riau), Teater Andung (Bengkulu), Teater Kurusetra UKMBS Unila (Lampung), dan tuan rumah Teater Satu (Lampung).

Panggung Perempuan Se-Sumatera yang berlangsung lima hari (25--29 April), merupakan kerja sama Teater Satu dengan Hivos (Belanda). Kegiatan ini rangkaian program Kala Sumatera Teater Satu untuk pemberdayaan dan pengembangan kualitas artistik seniman-seniman teater di Sumatera.

Imas menjelaskan isu perempuan dalam ajang ini bukan sekadar diangkat dalam tataran wacana, melainkan juga pada praktek. Sebelumnya telah dilangsungkan workshop penyutradaraan, artistik, dan penulisan lakon untuk sutradara dan perempuan penulis dari masing-masing kelompok peserta yang telah lolos seleksi.

Kegiatan ini juga dihadiri para pengamat seperti kurator pertunjukan Goethe Institute Noviami, pengamat dan kritikus film Lisabona, sutradara Teater Tetas Jakarta Agus Aryadipayana, dan penulis lakon dan perempuan aktivis Faiza Marzuki. n MG2/K-1

sumber : Lampung Post, Sabtu 25 April 2009

Teater Satu Gelar Kala Sumatera

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Teater Satu dan Hivos Belanda mengadakan Kala Sumatera di Taman Budaya Lampung, Jumat (21-11). Kegiatan Kala Sumatera terdiri dari panggung perempuan se-Sumatera, jaringan teater se-Sumatera, pelatihan guru teater se-Lampung, dan penerbitan buku bermain drama.

Panggung perempuan se-Sumatera diikuti 21 peserta dari 12 lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas teater. Di antaranya: Teater Generasi (Sumatera Utara), Kominitas Seni Intro (Sumatera Barat), Teater Sakata (Sumatera Barat), Teater Selembayung (Riau), Teater Oranye (Jambi), Teater Andung (Bengkulu), Teater Kurusetra (Lampung), Teater Baru (Sumatera Selatan), SPI Labuhan (Sumatera Utara), WCC Palembang, APM Merangin, dan Damar Lampung.

Peserta panggung perempuan diberi materi tentang penyutradaraan dan penulisan lakon oleh Pemimpin Umum Teater Satu, Iswadi Pratama, Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yudi Aryani, penggiat teater Laskar Panggung, Yusep Muldiawan, Dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Arthur S. Nalan, dan Joko Kurnain, dan Sutradara Lena Simanjuntak.

Kepala Operasional Imas Sobariah, Minggu (16-11), mengatakan selain dibekali materi penyutradaraan dan penulisan lakon, juga ada diskusi tentang perspektif gender yang diisi oleh Direktur LSM Damar S.N. Laila. Peserta juga saling bertukar pikiran tentang dunia teater. Pada Januari mendatang, kata Imas, para peserta yang telah memperolah pembekalan akan melokakaryakan ide cerita teaternya. Dilanjutkan dengan pementasan teater di Taman Budaya, April 2009. n */K-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 18 November 2008

Teater Generasi Pentaskan Romeo-Juliet


10:01 | Wednesday, 25 November 2009


Kisah cinta Romeo dan Juliet tentu tidak asing lagi bagi telinga khalayak dunia. Skuel dan versinya pun bertaburan pada masing-masing bangsa.
Sebut saja Roro Mendut dan Pronocitro di Tanah Jawa. Atau Srikandi dan Arjuna dalam kisah Mahabharata. Serta banyak lagi kisah lainnya. Lalu, bagaimana pula dengan kisah dua sejoli dari Verona yang ditulis William Shakespeare? Berkat cerita ini pula, Shakespeare mampu menjadikan Verona sebagai satu kota yang sangat populer di dunia saat ini. Goresan fantasi Shakespeare berabad lalu itu hingga kini begitu terasa di kota itu. Hebatnya lagi, drama tersebut mampu dihidupkan pemerintah kota Verona dengan dibangunnya Casa di Guiletta atau rumah balkon keluarga Juliet.

“Dalam drama Shakespeare, rumah balkon itu merupakan tempat pertemuan Romeo dan Juliet, sepasang kekasih yang tidak direstui kedua orangtua mereka karena kedua keluarga itu bermusuhan,” ungkap Suyadi San, Sutradara Romeo-Juliet, kepada wartawan, kemarin (23/11). Kini, lanjut Suyadi, Casa Di Guiletta dijadikan objek wisata dan mampu menjadi daya tarik para turis. Apalagi di situ dibuat juga patung Romeo dan Juliet dari tembaga yang mampu menambah kekuatan fantasi cerita percintaan tragis dua anak muda itu.

“Kisah ini pun akan dipentaskan Teater Generasi Medan di Gedung utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Jalan Perintis Kemerdekaan 33 Medan, Rabu (25/11) pukul 15.30 WIB dan Kamis (26/11) pukul 19.30 WIB,” tuturnya.

Sekilas tentang Teater Generasi, teater ini adalah lembaga/komunitas kebudayaan independen yang didirikan pada 17 Juni 1995 di Medan. “Teater Generasi merupakan ruang silaturahmi banyak hal yang berkaitan dengan seni, pembelajaran, dan kesadaran. Kami memasuki arena pergulatan dan pergaulan kesenian, tradisi atau modern serta medan artistik, dalam pengertian seluas yang bisa dirambah, dengan teater dan sastra sebagai basis utamanya,” jelas Suyadi.

Teater Generasi menyadari, penghapusan sekat-sekat atau dikotomi-dikotomi yang membatasi antara seni dan non-seni, antara teater atau sastra dan seni rupa, musik, tari, arsitektur, antara seni dan ritual, politik, ekonomi, dan lain sebagainya adalah mutlak, setidaknya pada tataran ide (gagasan).

Oleh karenanya, lanjut Suyadi, sanggar ini didesain sebagai arena pergulatan dan pergaulan kesenian dan standarisasi penciptaan teater dan sastra di Medan dan Sumatera. Kami menekankan, setiap proses yang dijalani harus dalam koridor peningkatan kualitas penciptaan, daya hidup, dan spiritualitas. “Sebagai sanggar atau komunitas kebudayaan profesional yang berbasis seni, pembelajaran, dan kesadaran dengan berorientasi pada kualitas penciptaan dan solidaritas kemanusiaan,” terangnya.

Menjadikan pengkajian keilmuan (diskusi-diskusi, workshop-workshop, dokumentasi atas eksplorasi teater dan sastra, dsb) yang berorientasi pada peningkatan kesadaran, kualitas penciptaan dengan teater dan sastra sebagai basis utamanya,

Menjadi media alternatif bagi pembelajaran dan peningkatan kesadaran setiap anggota dan publiknya. Mendokumentasikan dan mempublikasikan beragam hasil kajian, kreativitas, dan ekspresi seni tersebut kepada masyarakat serta menjadikan setiap aktivitas dan peristiwa kesenian sebagai sebuah perayaan bersama, ruang silaturahmi, dan membina integritas diri.(saz)

Keyword: medan, teater

Sumber : Harian Sumut Pos, Rabu 25 November 2009 Halaman 1 Metropolis